Spain Adventure
Ronda, Jimera de Libar, Jimena de la Frontera

Senin, sekitar jam 6 sore kami berangkat menuju Ronda, kota dimana keluarga besar Sebas tinggal. Sepanjang perjalanan menuju Ronda, yang terlihat adalah hamparan kebun bunga matahari dan ladang olive. Sejauh yang saya ketahui, Spanyol memang terkenal sebagai produsen olive oil terbesar di dunia. Dan Andalusia menghasilkan olive oil dengan kualitas bagus karena mendapat sinar matahari yang tepat untuk menghasilkan buah olive yang maksimal.
Ronda adalah kota di puncak gunung di provinsi Malaga yang berada di atas ngarai yang dalam. Ngarai ini, El Tajo, memisahkan kota menjadi 2 bagian, kota lama dan kota baru pada sekitar abad ke 15 yang lalu. Sebelum masuk kota Ronda, pada tikungan terakhir di atas bukit, kita akan melihat ngarai yang memisahkan kota yang tampak seperti tembok raksasa yang membentang panjang.
Ibu Sebas sudah menyambut kami di depan rumah ketika kami tiba, ini adalah untuk pertama kalinya saya bertemu keluarga Sebas sejak kami menikah. Beliau menyambut saya dengan ramah, meskipun terkendala bahasa (karena saya belum bisa bahasa spanyol dan beliau tidak bisa berbahasa inggris) tapi kami bisa bertukar cerita dengan Sebas sebagai penerjemah dan sedikit bahasa isyarat. Beliau bahkan membawa kami jalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya dan menyapa (hampir) seluruh tetangga.
Dekat Plaza de Toros ada sebuah taman besar yang memiliki balkon tepat diatas tebing yang membelah kota Ronda. Disana kita bisa melihat seluruh kota dan melihat dengan jelas perbedaan kota lama dan kota baru dari atas.

Kami melanjutkan perjalanan dan menyeberangi jembatan menuju kota lama, Puente Nuevo, yang membentang di Tajo de Ronda. Ini merupakan lambang kota yang paling terkenal dan sering saya lihat di iklan travel agent untuk promosi tujuan wisata. Indah sekali, sayangnya tidak ada yang bisa membantu kami mengabadikan foto kami berdua, jadi cuma ada foto kami sendiri-sendiri disini.
Begitu menyeberangi jembatan, pemandangan yang tidak bisa terlewatkan adalah kediaman raja-raja Moor sebelum kota ini diambil alih raja-raja katolik pada abad ke 14. Sambil berjalan menikmati indahnya pemandangan kota tua kami nyemil cherry yang Sebas petik langsung dari pohonnya hhmmm......


Hari selanjutnya adalah jadwal kami berkunjung ke rumah ayah Sebas di kebun olive oilnya, Ternyata rumah beliau bukan rumah di kebun seperti yang saya bayangkan, ini sih seperti villa atau setidaknya seperti, rumah di tayangan telenovela yang pernah saya lihat waktu saya kecil dulu. Kakak Sebas dan anaknya sudah menunggu kami disana. Melewatkan hari dengan berenang dan bersantai dipinggir kolam, saya mendengar cerita tentang masa kecil mereka. Malam itu kami memutuskan untuk menginap disana, tidur dihalaman, mbeber kasur (kalau orang jawa bilang), tidur sambil melihat milkyway yang semakin tampak indah di kegelapan malam.
Dari cerita ayah dan kakak Sebas kemarin, ternyata mereka pernah melewatkan masa kecil di Jimera de Libar dan kebetulan kami ada rencana untuk mengunjungi seorang teman Indonesia yang tinggal disana, jadi Sebas memutuskan berangkat besok pagi supaya bisa mampir melihat rumah masa kecil mereka disana. Sebelum kembali ke rumah mama, kami berkeliling melihat kebun olive yang ternyata besar sekali, kalau dipikir kasian juga ayah Sebas tinggal disana sendirian sambil mengurus kebunnya, wah...kalau saya mungkin ga akan sanggup. Tapi beliau kelihatan bahagia dan menikmati hidupnya, itu yang terpenting.
Pagi-pagi sekali kami berangkat, mampir sebentar di Cat Cave, gua yang berbentuk seperti kepala kucing. Dibawah gua ada danau yang ternyata airnya luar biasa dingin, jadi kami mengurungkan niat untuk berenang dan hanya berfoto. Lagipula kita tidak diijinkan masuk ke dalam gua. Jadi cuma ngintip-ngintip dari bawah aja.
Melanjutkan perjalanan ke Jimena de Libar, yang hanya sekitar 30 dari Ronda. Tidak ada obyek wisata disini. Hanya sebuah kota kecil biasa, tapi tujuan kami kesana memang untuk melihat tempat Sebas menghabiskan sebagian masa kecilnya. Rumah yang dulu mereka tempati sepertinya sudah lama sekali ditinggalkan pemilik barunya. Rusak tak terurus dan beberapa ruangan terendam lumpur, mungkin dulu pernah banjir. Di halaman belakang kami melihat tumpukan barang-mendengar cerita tentang masa kecil mereka barang, iseng, Sebas bongkar-bongkar daaaaan.....kami menemukan foto mendiang adik Sebas disana, masih tersimpan di rak buku.
Puas bongkar-bongkar kami berenang di danau depan rumah. Jam 7.30 sore kami bersiap berangkat menuju ke rumah mbak Manda karena undangan beliau jam 8 malam.. Sebelum berangkat, saya mengirim pesan singkat kalau kami akan tiba dalam beberapa menit. Saya mengirimkan kembali lokasi rumah ke whatsApps Sebas, tiba-tiba dia bilang
"Loh, ini di Jimena ?"
"iya, kan sudah bilang sejak minggu lalu kalau Jimena"
"Aku kira kamu salah pengucapan, aku pikir kamu mau bilang Jimera. Ini sih masih sejam dari sini. Kabarin kalau kita akan datang terlambat"Ya mana saya tau kalau dia berpikir begitu, karena saya yakin kalau saya sudah mengucapkannya dengan benar, jadi ketika dia menawarkan bersantai-santai di danau sampai tiba waktu makan malam, saya sih senang aja.
Tiba di Jimena de La Frontera, mbak Manda dan suami menyambut kami dengan ramah. Mereka mempersilahkan kami untuk mandi dulu sebelum makan malam. Meskipun sore tadi kami sudah mandi di danau, tapi tawaran mandi dengan air hangat sungguh menggiurkan dan tidak boleh disia-siakan hahaha.....karena mulai malam ini, kami akan 100% hidup di mobil dan entah kapan bisa menikmati mandi air hangat tanpa merebus air di panci dulu.
Mbak Manda dan suami menunjukkan kami tempat untuk menginap malam itu, tempat yang memang sungguh indah seperti yang mereka gambarkan. Sebuah danau yang dikelilingi bukit, jauh dari jalanan dan sangat sunyi. Cocok untuk tempat beristirahat. Bangun tidur dengan pemandangan yang indah membuat kami bersemangat untuk pergi hiking disekitar danau. Disana banyak tumbuh pohon Quercus Suber atau ek gabus, pohon yang tumbuh di hutan Mediterania dan Afrika yang kulitnya biasa digunakan sebagai sumbat botol anggur. Oalah.... baru tau saya kalau bentuk pohonnya seperti itu.
Pesta berlangsung sampai lepas tengah malam. Tau sendiri kan, orang Spanyol terkenal ramah, gampang berbaur dan doyan ngobrol. Cerita dari A sampai Z ga ada habis-habisnya. Padahal mereka baru kenal kami sore itu lo, saya sampai harus memberi Sebas kode berkali-kali supaya bisa pamit. Dari menolak isi ulang gelas minuman, kedipan mata, hingga colekan. Akhirnya, sekitar jam 1.30 dini hari baru kami berhasil pamit. Itupun masih nambah sekitar 10 menitan ngobrol sambil berdiri di pintu.
Perjuangan berikutnya adalah mencari tempat menginap. Malam itu kami parkir di halaman view point sekitar Castello de Jimena de la Frontera. Bangun agak terlambat kami mampir melihat kastil sebelum kembali ke rumah mbak Manda lagi untuk undangan makan pagi. Kastil Jimena de ka Frontera berdiri diatas apa yang disebut Cerro de San Cristobal. Saya sendiri tidak tau apa maksudnya. Yang saya baca, kastil ini kemudian menjadi monumen nasional pada tahun 1931. Dan kita bisa masuk melihat-lihat kastil dan pemandangan kota Jimena de la Frontera dari atas dengan gratis.
Setelah makan pagi kami pamit untuk melanjutkan perjalanan. Terima kasih untuk mbak Bandari Alamanda dan suami untuk undangan makan malam, yang jadi nambah makan siang dan makan pagi, plus birthday party dan hot showernya😘 Tantangan untuk hidup sebulan penuh di mobil kecil kami dimulai, dengan bahagia kami menuju destinasi selanjutnya.
Sampai jumpa di Alhambra, Granada

























































0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home