Monday, October 4, 2021


Spain Adventure

O Cebreiro, Parada de Sil, Ruta de Canon de Rio Mao



Sore itu kami berangkat ke Oviedo dan rencananya akan memulai Camino de Santiago segera setelah kaki Sebas pulih. Berangkat dari Granada sekitar jam 6 sore kami akan berkendara sejauh 876 km. Melewati Madrid sudah larut malam, kami memutuskan untuk berhenti mengisi bahan bakar, makan malam dan tidur, lalu rencananya pagi-pagi sekali melanjutkan perjalanan.  Tapi apa daya, badan kami remuk redam, terlalu lelah dan baru bangun jam 11. Akhirnya baru sekitar jam 1 siang setelah makan barulah kami melanjutkan perjalanan



Melewati O Cebreiro kami berhenti untuk melihat-lihat desa yang terkenal dengan pallozas-nya. Pallozas adalah rumah batu bulat beratapkan jerami yang masih dihuni sampai saat ini, dan dua yang tertua telah dijadikan sebagai musium yang dapat dikunjungi secara gratis pada pagi dan sore hari. Ada juga gereja pra-Romawi kuno yang masih berdiri utuh dan dipergunakan sampai sekarang. Gereja tersebut konon kabarnya akan membunyikan loncengnya selama musim dingin yang berkabut untuk memandu para peziarah (pelaku Camino de Santiago) untuk melewati kabut. Ini yang kami baru tahu, ternyata O Cebreiro termasuk salah satu jalur yang dilalui, bahkan  kita juga bisa memulai Camino de Santiago dari sana. Ada sebuah penginapan untuk para peziarah yang lewat dan berhenti di O Cebreiro yang sudah beroperasi sejak abad ke.9 

Kami berkeliling desa dan melihat banyak peziarah yang berhenti, menunggu tersedianya akomodasi bagi mereka di restoran-restoran kecil di desa. Karena pandemi, pemerintah hanya mengijinkan hotel mengisi 30% dari  jumlah kamar yang mereka miliki. Kami bertanya-tanya, bagaimana jika jumlah peziarah  lebih banyak dari jumlah kamar hotel yang tersedia di satu tempat pemberhentian? Jawabannya adalah... mereka terpaksa harus tidur diluar, di halaman gereja.  Mereka juga tidak diijinkan untuk menginap di dalam gereja seperti dulu lagi. Duh....padahal udara saat itu sangat dingin di musim panas, bagaimana kalau musim dingin ya

Lalu kami  mencari informasi  kepada para peziarah yang berhasil mendapatkan akomodasi, dari mereka kami tahu bahwa kita harus memesan kamar minimal dua minggu sebelumnya dengan tarif termurah 20 euro per-orang di sharing room atau 50 euro per-kamar.  Atau jika ingin menginap di refugee dengan biaya 15 euro seorang, kita harus tiba sepagi mungkin, antri, baru mendapat tempat. Mereka yang berhasil mendapat tempat di refugee biasanya berangkat jam 5 pagi, berlari supaya bisa tiba di  perhentian berikutnya sepagi mungkin untuk mengantri dan mendapatkan tempat ketika refugee dibuka pada jam 1 siang. Wah...berlari ? sama sekali tidak seperti yang kami bayangkan.  Dalam angan-angan, kami berharap bisa jalan santai, menikmati pemandangan  sambil ngobrol dan menikmati indahnya pemandangan, foto-foto, sampai di kota berikutnya baru mencari akomodasi, menginap selama yang kita mau, lalu melanjutkan perjalanan. Spontan tanpa booking tempat dan batas waktu. Ternyata hal itu tidak memungkinkan lagi disaat pandemi seperti ini. 










Kami berdiskusi tentang apa saja yang barangkali bisa menjadi opsi lain bagi kami untuk tetap bisa melakukan Camino de Santiago sesuai rencana tapi juga bisa mendapat akomodasi. Kami bertanya pada petugas refugee apa mungkin jika kami berangkat malam hari dan tiba di refugee pagi hari ketika peziarah lain berangkat, sehingga kami bisa mendapat tempat ? Tapi petugas bilang hal tersebut tidak mungkin, karena refugee akan  ditutup jam 8 pagi dan buka kembali jam 1 siang. Lalu kami berpikir untuk parkir mobil di pos akhir, naik bis kembali ke pos awal dan berjalan kaki kembali ke pos akhir, lalu tidur di mobil. Dan besoknya melakukan hal yang sama.  Tapi hal itu juga tidak memungkinkan, karena tidak semua rute yang dilalui memiliki jalur transportasi umum. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan Camino de Santiago dengan cara kami sendiri. Sebas and Meli Camino. Intinya, kami akan tetap berjalan minimal 20 km sehari, menjalin kedekatan selama perjalanan, ngobrol dari hati ke hati tentang apa yang kami inginkan dalam hubungan kami, menikmati pemandangan sepanjang perjalanan dan bertujuan akhir di Santiago de Compostella. 
 




Kami memulai semuanya di Parada de Sil  sebuah kota kecil di provinsi Ourence yang dikenal sebagai kota wisata sejak tahun 2015, sepanjang perjalanan yang kami lalui pemandangannya begitu indah, terlebih saat matahari mulai terbenam. Kota kecil ini memiliki warisan sejarah yang lengkap, dari landscape hingga monumen peninggalan Romawi. Kami parkir mobil dan tidur di lahan parkir sekitar area hutan kota, dekat dengan Balcon de Madrid yaitu teras besar di atas ngarai tempat wisatawan berfoto dan  melihat keindahan ngarai. Bersama kami, ada beberapa mobil yang juga menginap di tempat yang sama.



Pagi-pagi sekali kami sudah bangun dan sarapan. Banyak warga sekitar yang berjalan-jalan pagi dan menyapa kami. Dimulai dari hutan kota, kami berjalan menyusuri ngarai yang dalam, besar dan sangat indah, yang terkenal sebagai Canon del Sil. Di tengah jalan kami bertemu dengan seorang kakek bersama 3 orang cucunya,  penduduk desa setempat yang berjalan-jalan dengan keledai peliharaannya. Mereka mengapa kami dengan ramah dan senang sekali ketika saya ajak foto bersama. Ketika kami tanya, mereka memberi nama keledainya Margarita. Kalau dikota kita hanya akan melihat orang berjalan-jalan membawa anjing peliharaannya

Kami juga mengunjungi Monastery of Santa Cristina de Ribas de Sil  sebuah bangunan bekas biara yang sudah ditinggalkan dan dibangun pada sekitar pertengahan abad ke-10. Untuk masuk kedalam biara kami membayar tiket masuk seharga 1 euro per-orang. Di depan bangunan biara, kami melihat ada sebuah pohon yang pada bagian batangnya banyak terselip uang koin, gelang dan foto-foto. Katanya sih itu tempat orang memohon kesembuhan dan pertolongan bagi yang sedang sakit atau mengalami kesulitan 
















Lalu kami ke Miradoiro do Castro, jembatan kayu yang menjorok beberapa meter ke dalam ngarai, tempat berfoto. Buat yang suka bergaya seperti sedang berada diujung dunia seperti kami berdua, tempat ini sangat cocok. O ya, disini juga terdapat restoran dan camping area dengan beberapa unit rumah kecil yang bisa disewa. Tarifnya, untuk parkir mobil saja 5 euro per-malam, plus 15 euro jika kita menggunakan fasilitas kamar mandi dan listrik disana. Untuk rumah-rumah kecil dengan satu kamar tidur, kamar mandi dan dapur kecil tarifnya 50 euro per-malam. 







Pulang jalan-jalan kami mampir sebentar ke toko kelontong didekat tourist office untuk membeli buah dan enpanada, pastry panggang berisi ayam, ikan atau daging khas Spanyol. Bentuknya mirip pie tapi rasanya kalau saya bilang sih mirip pastel. Harga satu loyang besar 12 euro, tapi bisa membeli setengah saja atau satu loyang tapi dengan isian berbeda. Enak dan patut dicoba jika mampir kesana. Setelah menikmati enpanda kami mengambil mobil,  mencari fountain untuk mandi, mencuci dan mengisi ulang tandon air, lalu kembali ke tempat yang sama untuk makan malam dan beristirahat karena besok rencananya kami akan menyusuri Canon del Rio Mao





Sore itu sangat berangin dan sekitar jam 10 malam hujan turun cukup deras. Hanya ada 2 mobil yang parkir disana bersama kami. Untunglah lepas tengah malam hujan berhenti dan paginya cuaca sangat cerah. Sesuai rencana semula, hari itu kami akan menyusuri jalur 
Canon del Rio Mao, jalur ini berseberangan dengan jalur yang kami lalui kemarin. Dimulai dari bekas gedung pembangkit listrik yang sudah dirubah menjadi refugee dan restoran, kami menyusuri jembatan kayu disepanjang jalur sungai sampai berakhir di jalan beraspal. Melanjutkan perjalanan, kami menyusuri jalan setapak yang menanjak, melewati kebun apel dan anggur yang berakhir di sebuah desa super kecil yang hanya berisi beberapa rumah, chapel dan pemakaman. Menurut saya jalur ini agak membosankan dan tidak seindah Parada del Sil. 





Kami berhenti di halaman makam dekat chapel. Entah kenapa, saya selalu tertarik untuk masuk, duduk-duduk sebentar dan berfoto di pemakaman. Menurut saya pemakaman adalah tempat yang tenang, sejuk dan cocok untuk beristirahat. Meskipun dulu menurut Sebas hal yang saya sukai itu aneh, sekarang dia jadi ikut-ikutan suka berhenti dan masuk setiap kali kami lewat tempat pemakaman. Kami menggelar alas, makan siang dan tidur-tiduran dibawah pohon yang rindang didepan pintu masuk pagar pemakaman, hampir saja kami tertidur karena angin yang sejuk ditengah teriknya matahari. Sekitar sejam kami berada disana, lalu berfoto dan melihat-lihat chapel. Kami baca dipapan pengumuman, kita bisa mengadakan pesta pernikanan disana dengan biaya 300 euro. Waduh...kalau pesta pernikahan disana, siapa yang mau datang ditempat terpencil gitu 🤔








Melanjutkan perjalanan, dari desa kecil tersebut kami kembali masuk ke hutan. Ternyata pendapat saya pagi tadi salah, jalur ini sama indahnya dengan Parada del Sil yang kami lalui kemarin. Diujung desa kami mampir melihat jembatan peninggalan jaman Romawi yang masih berdiri kokoh sampai sekarang dan masih bisa dilewati. Jembatan Romawi memang terkenal sangat kuat walaupun dibangun tanpa semen. Ternyata kunci kekuatan jembatan terletak pada batu yang berada tepat ditengah lengkungan. 





Setelah itu kami menyusuri ngarai yang dibatasi oleh tembok yang juga merupakan bangunan sejak jaman Romawi. Meskipun ditumbuhi lumut yang tebal karena kurang mendapat sinar matahari, rute ini sangat indah dan layak untuk dikunjungi. Tapi kita harus terus memperhatikan tanda-tanda jalur, jika tidak ingin tersesat dan berputar-putar ditempat yang sama.  Menurut maps-me apps, aplikasi yang kami gunakan setiap melakukan perjalanan, jalur Canon do Rio Mao adalah sepanjang 16,5 km, tapi karena kami sempat nyasar dan berputar-putar mungkin hari itu kami berjalan lebih dari 20 km 😁










Menjelang sore kami akhiri petualangan dan memutuskan untuk langsung berkendara menuju lokasi berikutnya. Kami berhenti disebuah kota, saya lupa namanya, parkir di sebuah taman di dekat danau. Itu adalah keputusan terburuk sepanjang pengalaman kami mencari lokasi menginap, karena ternyata itu adalah taman tempat penduduk setempat menghabiskan waktu selama libur musim panas. Jadi tidak leluasa kami untuk mandi disitu meskipun menggunakan shower tent, karena banyak orang  berlalu lalang dan piknik disana. Lokasi tersebut juga terlalu dekat dengan jalan raya sehingga malam harinya kami tidak bisa tidur dengan nyenyak. Meskipun begitu, semua seperti  terbayarkan dengan pemandangan pagi hari yang sangat indah dari pinggir danau.



Setelah sarapan kami berkendara lagi, agendanya adalah belanja bahan makanan dan ke perpustakaan.untuk upload foto dan mengisi baterai cadangan. Tapi hari itu tanpa sengaja kami menemukan lokasi yang sangat indah, dimana? Saya ceritakan minggu depan ya 😉




4 Comments:

At October 5, 2021 at 11:20 PM , Blogger Yoyo Jewe said...

Asyik ya perjalanannya. Akan sampai kapan di Spain?

 
At October 9, 2021 at 12:13 PM , Blogger IndoSpain.adventures said...

Belum tahu nih, masih banyak tempat yang belum kita kunjungi

 
At October 11, 2021 at 3:27 AM , Blogger bieby is ME said...

Yuhuuu tempatnya keren2....kalo udah ngumpul bisa jadi buku tulisannya

 
At October 13, 2021 at 1:56 PM , Blogger IndoSpain.adventures said...

iya, lagi mikir pengen dicetak jadi buku. siapa tau bisa jadi buku panduan yg mau travelling murah meriah haha

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home