Spain Adventure
Baiona & Combarro
Karena bukan tipe lazy traveller yang gemar menikmati liburan dengan bersantai, kami bosan sudah 2 hari tidak melakukan apapun dan cuma tidur-tiduran di Pozas de Melon. Kami meneruskan perjalanan ke Baiona, ini adalah kota terakhir di bagian selatan Galicia. Kenapa kami mampir kesini ? Karena disini ada benteng Montreal yang mengelilingi seluruh kota. Menurut sejarah, karena letaknya yang strategis, maka kota selalu menjadi sasaran serangan penjajahan Portugis, bajak laut Norman dan consair Inggris. Dengan alasan itulah maka raja memerintahkan untuk membangun menara dan tembok pertahanan di sekeliling kota. Tapi kemudian pada abad ke-14 diambil alih sebagai daerah jajahan Portugis yang kemudian meruntuhkannya.
Kota ini juga menjadi bagian sejarah dari Christopher Columbus dalam perjalanannya menemukan benua baru, Amerika, karena salah satu karavelnya berlabuh di Baiona. Untuk melihat benteng ini kami tidak membayar apapun. Disini juga ada kastil Baiona yang sayangnya saat ini sudah menjadi parador del Conde de Gondomar, sebuah hotel dan restoran mewah yang tarif kamar permalamnya bikin kami tertawa. Wah...dengan tarif kamar segitu sih mungkin bisa kami pakai biaya liburan sebulan hahaha
Cukup panjang perjalanan menyusuri tembok yang mengelilingi hampir seluruh kota. Dari atas kami bisa melihat pantai yang sebagian sudah menjadi arena parkir yacht dan disisi yang lain adalah pemandangan hutan kota dan bagian belakang parador serta restoran parador yang tertata dengan apik. Lelah berkeliling dan berfoto kami berhenti untuk berteduh dan makan siang di taman belakang Parador, cuaca siang itu sepertinya lebih panas dari hari-hari kemarin. Mungkin karena sudah pertengahan musim panas dan kami sedang berada di dekat laut.
Sekitar jam 5 kami keluar dan menuju supermarket. Dalam perjalanan kami mampir sebentar di area parkir view point depan Virxe da Rocha. Sambil menimbang-nimbang apakah kami bisa tidur disitu malam nanti. Tapi setelah duduk beberapa lama disana, kami pikir tempat tersebut terlalu bising karena dekat dengan jalan raya. Dalam setiap perjalanan liburan, Sebastian adalah "the planner" dan saya yang menentukan kapan waktunya belanja, kapan ke perpustakaan dan kapan "rest time". Kalau mengikuti kemauannya, kami tidak akan pernah punya waktu buat beristirahat karena terlalu banyak tempat yang masuk dalam bucket list. Dan juga sayalah yang memutuskan apakah lokasi yang kami pilih sebagai tempat menginap cocok buat kami. Karena kami mudah terbangun dengan suara dan Sebas tidak bisa tidur ditempat yang terang. Lagipula saya lebih suka tempat parkir tanpa tetangga sehingga memudahkan saya buang air kecil saat tengah malam. Saya memang agak pemilih soal tempat untuk tidur.
Dari area parkir kami bisa melihat Virxe da Rocha. Dan sebenarnya bisa sih berjalan kaki dari sana, tapi hari itu kami sudah terlalu lama berjalan dan udara sangat panas. Membayangkan jalan kaki menanjak, meskipun hanya sejauh 700 meter sepertinya tidak terlalu menarik. Lagipula hanya sekitar 5 menit dengan mobil untuk sampai ke Virxe da Rocha. Itu adalah sebuah patung yang mewakili perawan Maria setinggi 15 meter yang memegang perahu ditangan kanannya dan berada disebuah taman menghadap ke pantai. Kita bisa masuk ke dalam patung dan naik keatas perahunya untuk berfoto, yaaa... seperti patung liberty di Amerika gitu deh. Untuk masuk ke dalam patung kita hanya diminta membayar seikhlasnya karena tidak ada loket dan tarif khusus. Hanya ada seorang bapak tua yang duduk didepan pintu masuk patung menjaga kotak uang seperti kotak amal di masjid. Menurut yang saya baca, patung ini diresmikan pada tahun 1930 dan dirancang oleh seorang arsitek yang sangat terkemuka pada jaman itu. Arsitek ini juga terkenal karena dialah yang merancang tampilan modern kota Madrid seperti sekarang ini.
Turun dari Virxe da Rocha kami berkeliling melihat taman tapi tiba-tiba saya merasakan pemberontakan di perut, gawat. Saya tengok kiri kanan, dibelakang mobil kami di parkir ada toilet, buru-buru saya berjalan kesana. Ibu yang menjaga mengatakan sesuatu, tapi karena kemampuan bahasa Spanyol saya sangat minim saya tidak mengerti apa yang dikatakannya. Saya katakan padanya saya tidak bisa bahasa Spanyol dan bertanya dengan bahasa Inggris apakah saya bisa menggunakan toilet tersebut. Beliau tersenyum, menunjuk-nunjuk ke arah restoran tapi kemudian mempersilahkan saya masuk. Keluar dari toilet Sebas sudah menunggu di depan pintu dan ngobrol dengan ibu tadi, ternyata toilet itu bagian dari restoran di taman dan bukan untuk umum. Oalah... itu maksudnya tadi 😁 Jadi, walaupun ada toilet di dekat tempat parkir, bukan berarti itu adalah toilet umum ya, karena bisa saja itu adalah toilet khusus untuk pengunjung restoran.
Dari sana kami ke supermarket terdekat untuk belanja bahan makanan. Sebas bilang Galicia adalah produsen Wine yang enak, jadi saat belanja kami membeli sebotol Wine. Saat membayar kami baru ingat kalau tidak membawa pembuka botol wine. Sebas bertanya pada mbak kasir apakah mereka bisa membukakan botol untuk kami. Seorang pembeli lain mendengar dan dia memberitahu kami untuk pergi ke sebuah bar di dekat supermarket dan bertanya apakah mereka mau menolong membukakan botol untuk kami. Jika tidak, kami boleh ikut ke rumahnya dan membuka botol disana. Saat Sebas pergi ke bar, kami menunggu di depan pintu supermarket dan ngobrol, ternyata dia juga turis dari perancis yang hampir setiap tahun datang ke Baiona untuk berlibur. Beliau bilang orang spanyol memang terkenal ramah dan terbuka, bagi mereka tidak masalah membuka membantu membuka botol wine meskipun kami tidak membelinya disana. Benar juga, Sebas kembali dengan botol yang sudah terbuka, jadi kami tidak perlu menumpang buka botol di rumah pak perancis 😀 setelah basa basi sebentar kami pamit dan berpisah.
Kami berkendara mengikuti mobil-mobil yang sepertinya bertujuan sama, menunggu saat sunset di Vello de Silleiro. Waktu Sebas bilang kami akan ke Vello de Selliero yang terkenal, saya tidak punya bayangan tempat apakah itu. Lalu kami berhenti di sebuah tanah lapang yang dipenuhi mobil-mobil, dan saya langsung setuju kalau Sebas bilang tempat itu sangat terkenal. Tapi kemudian Sebas bilang "loh, mana mercusuarnya?" Oooo....ternyata Vello da Silleiro adalah mercusuar, saya kira nama pantai. Karena yang saya lihat cuma deretan anak tangga yang menuju pantai, agak aneh juga kalau memang ada mercusuarnya berada disana, kok tidak ada bangunan sama sekali ? Saya pikir mungkin kami hanya akan melihat puing-puing sisa mercusuar saja, ternyata memang tidak ada. Diujung anak tangga hanya ada pantai biasa. Yang tidak biasa adalah pantainya tidak berpasir, tapi batu koral yang berwarna warni. Tadinya saya kira pecahan botol, ternyata memang benar-benar koral. Dan walaupun cuaca sangat terik, tapi air laut terasa sangat dingin, pantas tidak ada seorangpun yang berenang. Kami hanya sebentar disana dan kembali ke mobil untuk mencari tempat bermalam. Ketika kami menaiki anak tangga, barulah nampak mercusuarnya. Ternyata masih jauh di atas. Kenapa tadi ga kelihatan ya ?
Vello de Silleiro adalah mercusuar yang dibangun pada tahun 1866 setinggi 85 meter. Konon bahan bakar pertamanya adalah minyak nabati lalu beralih ke lampu minyak pada tahun 1900an. Katanya sih sejak tahun 1960an mercusuar ini telah memiliki lampu 3000 watt yang bisa dilihat dari jarak sejauh 40 mil laut dan sampai dengan saat ini masih menjadi salah satu titik utama orientasi kapal yang berlayar di perairan. Sayangnya mercusuar yang dimiliki oleh otoritas pelabuhan Vigo tersebut ternyata tidak terbuka untuk pengunjung. Dan ketika kami disana tampaknya sebagian gedung masih dalam tahap renovasi. Pengunjung hanya bisa mengambil foto dari pintu depan yang berpagar tinggi. Kecuali kalau mempunyai keberanian memanjat tembok tinggi di bagian belakang melalui jalan setapak disamping gedung yang tertutup alang-alang setinggi badan seperti yang kami lakukan, itupun kami temukan secara tidak sengaja. Dari sana kami bisa mendapatkan foto-foto yang lebih bagus. Ini bukan untuk ditiru ya, karena sangat berbahaya memanjat dan berjalan di tembok tinggi di atas tebing
Kira-kira 500 meter ke atas di arah belakang mercusuar, kami melihat bekas pangkalan militer yang sudah tidak digunakan lagi. Hanya puing-puing bangunan dan corong canon yang tersisa disana. Pemandangan pantai sangat indah dilihat dari atas. Kami menerebos alang-alang dan berfoto disana. Untuk naik ke corong canon membutuhkan sedikit perjuangan. Sebas sampai harus menggendong dan saya harus merambat maju untuk mendapatkan angle fotonya. Sekali lagi, ini adegan berbahaya dan tidak untuk ditiru jika bukan ahlinya atau jika anda takut ketinggian. Dibelakang kami banyak yang ikut-ikutan ingin foto di corong canon, tapi tidak semuanya berhasil naik karena yang menggendong bukan raksasa seperti Sebas haha
Kembali ke mercusuar, kami memutuskan untuk menginap di halamannya. Sambil melihat matahari yang perlahan-lahan terbenam kami mencoba wine yang kami beli hari itu. Karena saya bukan penggemar wine, bagi saya tidak ada bedanya wine yang dibeli di Galicia, Andalusia atau Catalunia, semua rasanya sama haha... Menginap dibawah mercusuar ternyata adalah pilihan yang tepat. Suara ombak laut sangat menenangkan dan cahaya dari lampu mercusuar sangat indah. Kami tidur nyenyak malam itu. Tidak ada seorang petugaspun yang berada di dalam mercusuar. Kami hanya melihat 2 orang petugas datang saat matahari terbenam, itupun hanya sekitar 30 menit saja, lalu mereka datang lagi pada pagi hari sekitar jam 9 ketika kami bangun tidur.
Setelah sarapan kami bersiap melanjutkan perjalanan. Kali ini kami akan ke Combarro, kota kecil yang terkenal dengan horreosnya. Horreos adalah lumbung khas yang terbuat dari batu dan beratapkan jerami. Bentuknya sangat khas karena memiliki alas disetiap ujung tiang penyangganya. Ini untuk menghindari tikus naik ke lumbung. Sejak beberapa tahun yang lalu Combarro menjadi tempat wisata yang paling banyak dikunjungi di Rias Bajas. Kami harus parkir jauh diluar dan berjalan kaki menuju kota kecil ini. Yang menarik, kita bisa berjalan kaki menuju desa melalui laut yang sedang surut. Karena kami tiba sekitar jam 11 siang, laut surut sangat jauh dari bibir pantai.
Berjalan menyusuri gang-gang kecil dan melihat rumah khas Combarro adalah hal lain yang menarik disini. Kota kecil ini juga terkenal dengan legenda penyihir. Di setiap sudut terdapat toko souvenir yang menjual aneka pernak-pernik berbentuk penyihir, umumnya berbentuk seperti cerita yang kita dengar saat kita kecil dulu. Penyihir kurus berbaju hitam, berhidung bengkok, memakai topi jerami dan naik sapu terbang. Aneka souvenir seperti gantungan kunci, tempelan kulkas dan boneka kecil dijual dengan harga berkisar antara 5-25 euro. Hal lainnya adalah banyak restoran yang menyajikan menu makanan laut. Saat liburan musim panas seperti sekarang adalah hal yang lazim jika kita harus mengantri untuk dapat meja dan makan siang disana. Kami juga berjalan-jalan melihat pasar ikan tidak jauh dari pusat kota. Aneka macam ikan dengan beragam jenis, bentuk dan ukuran dijual disana. Masih segar bugar pula. Ingin rasanya beli ikan atau cumi-cumi, tapi karena kami tidak punya kulkas dimobil, terpaksa niat itu saya urungkan.
Di suatu sudut dekat taman kota, kami melihat antrian panjang di depan toko roti. Kami bertanya pada orang-orang yang duduk dan makan aneka pastri ditaman kecil depan toko, ternyata itu adalah toko roti yang menjual empanada terenak di combarro. Kami ikut-ikutan antri dan membeli. Memang enak meskipun tidak lebih enak dari yang kami beli di desa dekat Rio del Mao dan disini harganyapun lebih mahal. Karena saat itu kami satu-satunya pembeli yang berbahasa Inggris, pemilik toko memberi kami bonus 2 buah pastri yang katanya produksi terbaru dari toko tersebut.
Setelah makan siang kami kembali lagi menyusuri gang-gang sempit di desa lalu kembali ke mobil dan akan mencari tempat untuk siesta, tidur siang. Tapi ternyata jalan masuk melalui laut surut yang kami lewati tadi pagi sudah tidak surut lagi. Air laut sudah naik, jadi kami harus memutar dan kembali ke mobil melalui jalan raya yang padat oleh mobil-mobil, wisatawan yang berjalan dan udara yang sangat panas.
Kami menuju hutan kota yang terletak agak jauh diatas combarro. Kalau tempatnya nyaman, kami akan bermalam disana dan besok pagi bisa jalan-jalan di hutan kota. Selain udaranya lebih segar karena terletak di atas bukit, disana juga banyak pohon besar untuk bernaung. Sebelum naik ke hutan kota, tanpa sengaja kami menemukan fountain. Jiwa car-wife membuat saya memutuskan berhenti untuk mengisi cadangan air, mencuci baju, mandi dan tidur siang disana saja. Sebas menyiapkan shower tent dan mandi, saya mencuci baju. Giliran saya yang mandi, Sebas yang menjemur baju. Mandi air dingin disaat hari sedang sangat panas begini membuat badan terasa segar. Kami tidur siang dengan pulas dan baru terbangun ketika matahari sudah hampir terbenam.
Maksud hati ingin melihat matahari terbenam dari view point diatas bukit dan menurut informasi yang kami baca, ada 3 view point di hutan kota tersebut. Tapi kami hanya menemukan 2 saja. Pemandangan dari sana ternyata tidak terlalu bagus dan kami tidak bisa melihat matahari terbenam. Dan di view point pertama banyak kotoran kuda tapi kami tidak melihat seekor kudapun disana. Di tempat kedua juga begitu, kami hanya melihat sungai dari atas. Karena sudah tanggung, kami parkir saja mobil di view point ke-2 yang terletak agak ke dalam dan menyiapkan makan malam dan mobil untuk kami tidur. Hanya kami berdua ditengah hutan, meskipun tidak terlalu jauh dan masih terdengar suara musik dari kota, tapi rasanya seram juga. Walau begitu kami tidur dengan nyenyak dan baru terbangun ketika mendengar suara beberapa orang berjalan sambil ngobrol. Ternyata hutan kota tersebut juga menjadi jalur Camino de Santiago. Kami minum kopi dan sarapan disana, saya bahkan sempat potong rambut. Menjelang siang kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami lagi. Kali ini kami menuju ke tempat yang sudah lama kami ingin kunjungi
































