Wednesday, October 13, 2021

 Spain Adventure

Ribadavia & Pozas de Melon




Pagi itu adalah jadwal kami belanja bahan makanan, karena kota terdekat dari tempat kami menginap adalah Ribadavia, jadilah kami menuju kesana. Setelah berbelanja kami mampir ke perpustakaan kota. Setiap perjalanan liburan panjang seperti sekarang, kami rutin pergi ke perpustakaan setiap 3-4 hari sekali untuk mengisi baterai, upload foto ke cloud dan sesekali numpang BAB 😀.  Ribadavia adalah kota yang paling banyak dikunjungi di provinsi Ourence, kota ini juga menawarkan kawasan yahudi yang masih terpelihara. Bahkan kota tuanya dilindungi sebagai situs sejarah. 

Dari perpustakaan, kami berjalan kaki menuju Castillo de los Condes, letaknya tidak jauh dari perpustakaan, pintu masuk dan keluarnya hanya melalui tourist office di kawasan Plaza Mayor, kira-kira 300 meter dari perpustakaan. Kami membayar 3,5 euro per-orang untuk masuk melihat-lihat reruntuhan kastil. Tersedia panduan audio berbentuk seperti telepon genggam. Kita bisa mendengar cerita tentang kastil simbol kekuatan bangsawan Ribadavia yang dibangun pada abad ke-15 ini. Kita tinggal menekan tombol angka pada remote ditempat yang bernomor. Cukup menarik karena kita seperti mendengarkan dongeng seorang kakek tentang mengapa dan bagaimana kastil tersebut dibangun, ruang-ruang dan fungsingnya, sejarah bangsawan yang berkuasa pada masa itu dan bagaimana cerita akhirnya sampi kastil tersebut runtuh.  Sayangnya papan nomor yang dipasang terlalu kecil sehingga kami seperti bermain petak umpet untuk dapat menemukan nomor yang berurutan supaya cerita sejarah yang kami dengar juga berurutan. 








Keluar dari kastil kami  menuju Plaza Mayor yang dikelilingi oleh restoran-restoran yang menyajikan masakan khas Ribadavia, calamari atau cumi-cumi bumbu hitam seperti yang sering kita temui pada masakan Indonesia. Lalu kami menyusuri kota tua, berjalan-jalan di gang sempit yang berkelok-kelok dengan rumah-rumah yang berpintu kecil dengan simbol Yahudi. Konon dulu ada sekitar 1500 orang Yahudi yang menetap di kota ini. Mereka mulai datang pada abad ke-13 dan diterima dengan baik oleh warga setempat sebelum akhirnya warga Yahudi meninggalkan Galicia setelah terjadi pengusiran dan penganiayaan orang-orang Yahudi pada abad ke-16





Sewaktu di perpustakaan kami browsing tempat wisata sekitar Ribadavia, dan ternyata ada sebuah air terjun tidak jauh dari sana. Saat kami tiba, tempat parkir sudah penuh. Mungkin karena musim liburan dan cuaca sangat panas. Di dekat tempat parkir ada kafetaria yang memiliki meja-meja besar diluar yang sepertinya sudah ditutup sejak pandemi. Kami membawa bekal makan siang dan mengikuti jalan setapak, naik menuju air terjun.  Pozas de Melon sebenarnya adalah sungai yang berbatu-batu membentuk  kolam-kolam kecil yang dangkal. Dihulu sungai terdapat air terjun yang (katanya) besar dan Indah. Ada 3 kolam besar yang berada di sepanjang sungai yang kami lihat dari jalan setapak menuju air terjun.  Beberapa meter setelah kafetaria, kami melewati kolam pertama yang disebut Pola de Estrella,  siang itu sudah dipenuhi pengunjung. Mungkin karena kolam ini letaknya paling dekat dengan lokasi parkir, besar, tidak terlalu dalam dan rindang karena banyak pohon-pohon besar disekitarnya. Kolam kedua , Poza de Ariba letaknya lebih diatas tapi menurut saya terlihat kumuh. Mungkin karena  lebih dekat dengan jalan raya dan berada dibawah jembatan.  Kolam ketiga, Poza de Estrella jauh berada diatas dan menurut saya paling indah. Tapi siang itu tujuan utama kami bukanlah kolam alami, tapi melihat air terjun di atas. Lagipula sepertinya tidak mungkin kami bisa mendapatkan foto-foto yang bagus saat itu karena banyaknya pengunjung yang berenang disana.  Jadi kami teruskan berjalan mengikuti jalan setapak menuju ke atas. Disepanjang jalan banyak kolam-kolam kecil penuh dengan wisatawan yang berendam. Sepertinya lokasi ini menjadi tempat favorit warga sekitar dan beberapa wisatawan yang beruntung karena kebetulan menemukan tempat ini tanpa sengaja seperti kami. Kira-kira 1 jam berjalan, kami mulai menemukan anak tangga menuju ke puncak dan sampailah kami di air terjun. Tidak terlalu indah tapi pantas untuk dikunjungi karena dibawahnya juga terdapat kolam alami yang besar dengan air yang sangat jernih tapi dingin. Kami memberanikan diri untuk berenang disana dan rasanya seperti mandi di kolam bongkahan es batu. Duiiiingiiiin........










Menjelang sore cuaca mulai berangin dan  udara sudah mulai dingin, mustahil rasanya untuk masuk ke kolam lagi, jadi kami turun dan memutuskan untuk menginap disana supaya besok pagi bisa dengan mudah  kembali ke atas untuk berfoto di Poza de Estrella sebelum banyak turis lain yang datang. Lagipula di lokasi tersebut mudah mendapatkan air untuk mandi dan mencuci peralatan memasak. Kami menyiapkan makan malam dan tidur di lokasi parkir. Hanya kami yang berada disana malam itu, jadi bisa tidur dengan nyenyak. 



Jam 8 pagi kami dibangunkan oleh suara petugas kebersihan yang mengosongkan tempat sampah. Kami bersiap untuk naik ke atas lagi, tapi hari ini kami akan piknik di Poza de Estrella. Sebagai "car-wife" yang baik 😀 saya sudah mempersiapkan bekal, termasuk sabun mandi dan sabun cuci karena rencananya  akan sekalian mencuci baju di sungai. Untuk mandi dan mencuci kami menggunakan sabun yang ramah lingkungan. Sebelum naik, kami sempatkan foto-foto dulu  di setiap kolam sepanjang aliran sungai, mumpung belum ada wisatawan lain yang datang. Di perjalanan kami bertemu beberapa petugas kebersihan sedang memotong rumput dan pohon yang terlalu rimbun. 








Sampai diatas baru ada kami dan dua pasang manula bersama anjing mereka yang juga akan piknik disana, mungkin mereka masuk langsung dari jalan setapak dibawah jembatan dekat jalan besar. Kami memilih tempat di atas yang lumayan sejuk dan agak jauh dari jalan setapak meskipun harus menyeberangi sungai, melalui batu-batu yang agak licin. Sepadan dengan pemandangan yang kami dapatkan, bisa melihat langsung ke air terjun kecil dengan kolam yang dialiri air deras dan diatasnya ada batu besar serupa teras, pas untuk menggelar alas piknik dan bersantai. Sebelum mencuci dan mandi, kami sempatkan dulu mengambil foto sebanyak-banyaknya di Poza de Estrella sebelum  pengunjung berdatangan.





Poza de Estrella memang menjadi tempat paling favorit disini karena kolam-kolam kecilnya yang instagramable. Kemarin siang kami lihat wisatawan harus mengantri hanya untuk mengambil foto. Untung hari ini  kami datang pagi-pagi sekali, serasa tempat itu hanya milik kami berdua. Bahkan kami bisa main perosotan di batu-batu seperti sedang berada di waterboom. Tapi ini adegan berbahaya ya, jangan ditiru buat yang bukan ahlinya haha.... karena meskipun kami kerap melakukan hal seperti ini, terkadang pantat kami jadi lecet-lecet kana goresan batu







Puas bermain air kami menikmati hari dengan bersantai, berjemur menikmati hangatnya sinar matahari yang tidak terlalu terik, membaca sambil menunggu cucian kering. Menjelang sore kami mulai merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa selain tidur-tiduran. Lagipula Pozas de Melon sudah mulai ramai dengan pengunjung, sudah ga asik lagi. Kami kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Tapi kemana ? 😉  

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home