Spain Adventure
Santiago de Compostella
Turun dari Combarro view point kami kembali lagi ke fountain di bawah untuk mandi, mencuci perlengkapan memasak dan mengisi persediaan air di mobil. Jika menemukan fountain atau sungai, kami selalu sempatkan mandi dan mencuci, karena tidak tahu kapan lagi akan menemukan air berlimpah seperti saat ini. Selesai mandi datang 3 gadis remaja yang berhenti untuk beristirahat dan mengisi air minum disana. Kami ngobrol sebentar, mereka melakukan Camino dan sudah berjalan selama 3 hari. Memang banyak jalur menuju Santiago de Compostella, salah salah satunya yang melewati Combarro. Jarak yang terdekat untuk mendapatkan semacam sertifikat adalah 100 km seperti yang mereka lakukan, dan lebih kurang selama 5 hari berjalan. Saat musim liburan seperti sekarang ini, semakin banyak orang melakukannya, terutama remaja seperti mereka.
Maka kami putuskan tujuan kami selanjutnya adalah Santiago de Compostella. Hanya 1 jam berkendara atau sekitar 68 km dari Combarro. Sepanjang jalan kami melihat banyak sekali rambu-rambu, para pejalan kaki dan albergue, maklum, sudah mulai mendekati titik akhir camino. Alberque adalah asrama bagi para peziarah. Konsepnya mirip seperti hostel. Biasanya memiliki satu atau beberapa kamar dengan tempat tidur susun, toilet bersama, dapur dan area umum. Tarifnya dihitung per-orang dan berkisar antara 15-30 euro. Mendekati kota Santiago, jalanan semakin ramai dengan mobil-mobil. Yakin akan sulit mencari tempat parkir, kami berhenti di gedung pusat kesenian, perpustakan dan stadion yang memiliki lahan parkir sangat luas agak diluar kota. Sayangnya tidak ada tempat teduh karena gedung ini tergolong masih baru dan pohon-pohon yang ditanam di lahan parkir masih kecil dan pendek. Meskipun jauh dari pusat kota, lahan parkir disanapun ternyata penuh, dan rupanya stadion hari itu digunakan sebagai tempat vaksin covid bagi penduduk Santiago. Di gedung kesenian juga sedang ada pertunjukan drama. Ketika tahu tujuan kami adalah ke Katedral Santiago de Compostella, seseorang yang parkir disebelah kami berkata kalau hari itu Katedral lebih ramai dari hari-hari biasanya. Wah...kalau hari biasa saja yang datang kesana bisa ratusan orang orang, bagaimana jika sedang ramai ya?
Kami masih harus berjalan lumayan jauh, kira-kira 3 km dari Katedral kami menemukan lahan parkir yang luas dan rindang. Sebas kembali untuk mengambil dan memindahkan mobil kesini karena menurutnya kami bisa tidur disitu malam nanti. Saya memilih menunggu saja dibawah pohon. Biar deh dibilang gak setia, daripada jalan lagi ke stadion. Setelah berjalan hampir 1 jam dibawah terik matahari, duduk dibawah pohon jauh lebih menggiurkan buat saya. Ketika kembali, mobil kami parkir dibawah pohon yang agak jauh dari jalan raya, supaya nanti malam tidak terlalu bising dengan suara mobil-mobil yang lewat. Tapi perjuangan belum selesai, kami masih harus berjalan lagi ke Katredral. Memotong jalan melalui belakang halaman rumah penduduk dan menyusuri sungai, kira-kira 30 menit kemudian barulah kami melihat menara Katedral. Baru melihat menaranya saja kami sudah girang bukan main.
Siang itu jalanan sepi. Tidak ada mobil yang parkir ditengah kota karena sepertinya memang tidak diperbolehkan. Entah karena saat itu jam siesta atau karena kami melewati jalan yang berbeda dari yang biasanya dilalui peziarah, kami hanya berpapasan dengan beberapa orang saja. Bersama kami ada seorang peziarah lain yang mengendarai sepeda. Jalan yang kami lalui sangat menanjak, kami saja yang berjalan kaki saja kesulitan, apalagi dia yang menggenjot sepeda. Di atas pintu-pintu rumah terlihat lambang khas Camino menyerupai rumah kerang dan tahun pembangunannya. Dilihat dari tahun pembuatannya, rata-rata rumah disana sudah berumur ratusan tahun. Semakin mendekati katedral, jalanan semakin ramai. Disekitar kami lihat banyak cafe, restoran dan hotel yang semuanya penuh pengunjung. Lebih kurang jam 3 sore, akhirnya kami bisa melihat secara langsung penampakan katedral Santiago de Compostella yang terkenal itu. Kami masuk dari arah samping kiri katedral. Dihalaman penuh dengan peziarah, dan untuk masuk ke dalam katedral ada antrian yang cukup panjang. Padahal tidak dibatasi, tapi antriannya sampai hampir keluar halaman katedral.
Dipintu masuk barang bawaan kami diperiksa satu persatu, dan kami dilarang melepas masker meskipun untuk berfoto. Mungkin karena bangunannya yang terlalu besar, antrian panjang para pengunjung yang kami lihat diluar tadi seperti tidak ada apa-apanya. Kami masih bisa berfoto dengan leluasa sambil mencuri-curi kesempatan berfoto tanpa masker hehehe.... Petugas penjagaan mondar-mandir dan berulang-ulang mengumumkan bahwa kami dilarang berbicara dan menyentuh tembok. Sayangnya bagian terpenting dari cerita sejarah, yaitu pilar yang berjejak telapak tangan, tidak bisa kami lihat. Mungkin karena pandemi sehingga bagian tersebut ditutup supaya pengunjung tidak menyentuhnya. Mas penjaga yang bertubuh lebih kekar dari Sebas berjaga disana. Untuk sekedar mendekatipun kami tidak diperbolehkan.
Menurut sejarah, katedral ini dibangun pada abad ke-10 dibawah pemerintahan Alfonso VI dari Kastilla yang mendapat perlindungan dari uskup Diego Palaez. Bangunannya dibuat sesuai rencana yang sama dengan gereja di Toulouse, Perancis. Sebagian besar bangunan menggunakan granit. Langit-langitnya sangat tinggi dan ornamen-ornamennya berwarna keemasan. Saya tidak tahu apakah hanya cat berwarna emas atau memang berlapis emas. Setelah melihat-lihat bagian dalam katedral kami keluar untuk makan siang di halaman. Disana kami mendengar kalau jam 19.00 nanti akan ada misa. Sebas mengajak saya untuk mengikuti misa malam. Tumben-tumbenan nih Sebas ngajak ikut misa. Petugas penjaga dipintu keluar memberitahu kami kalau peserta misa dibatasi hanya 250 orang saja, dan jika kami ingin ikut misa sebaiknya masuk dan menunggu didalam. Wah, padahal masih 2 jam lagi, jadilah kami kembali ke pintu masuk dan mengantri. Setelah didalam kami langsung mencari tempat duduk, lebih baik duduk menunggu daripada harus keluar lagi karena tidak mendapat tempat.
Tepat jam 19.00 dua orang petugas gereja naik ke mimbar. Mereka mengumumkan dalam 2 bahasa, Perancis dan Belanda, bahwa bilik convension atau pengakuan dosa sudah dibuka dan mempersilahkan peserta misa yang ingin membuat pengakuan dosa. Pengakuan dosa disediakan dalam beberapa bahasa; Inggris, perancis, belanda, spanyol dan tagalog. Setelah itu seorang seorang biarawati maju ke mimbar dan menyanyikan pujian, suaranya merdu sekali. Semenjak pindah ke Spanyol, belum pernah saya melihat hal itu, meskipun kami sudah menghadiri berkali-kali misa di berbagai gereja. Lalu uskup datang dan memimpin misa dalam bahasa Spanyol. Di tengah misa, ketika biarawati kembali menyanyikan pujian, kami dikejutkan dengan suara organ pipa yang dimainkan tepat diatas tempat duduk kami. Wah, ini juga baru pertama kalinya kami dengar. Kami kira organ pipa sudah tidak dimainkan lagi dan hanya dijadikan sebagai hiasan gereja atau katedral. Saking kagumnya, kami sampai tidak lagi serius mengikuti misa karena berkali-kali mendongakkan kepala mengagumi musik yang keluar dari pipa-pipa diatas kami. Saya dan Sebas setuju bahwa hari itu adalah misa terindah yang pernah kami ikuti.
Misa berakhir jam 20.00 dan pintu katedral langsung ditutup ketika peserta misa terakhir keluar. Di depan pintu keluar kami melihat air mancur dan menyempatkan berfoto disana. Lalu kami berjalan ke bagian depan dari katedral yang seharusnya menjadi pintu masuk utama. Tapi semenjak pandemi ditutup total dan peziarah hanya diperbolehkan masuk melalui pintu samping. Di halaman depan kami lihat lebih banyak lagi peziarah yang berada disana untuk sekedar berfoto atau duduk-duduk dan beristirahat. Di arah kanan katedral adalah sebuah hotel bintang 5 yang pernah menjadi lokasi syuting film The Way yang juga menceritakan tentang perjalanan seseorang yang melakukan camino de santiago.
Puas berfoto kami berjalan-jalan mengelilingi kota Santiago sambil menunggu saat matahari terbenam. Disekeliling katedral ternyata masih banyak gereja-gereja kecil, monastery dan juga cafe, bar serta restoran. Pemandangan yang sangat kontras, disatu sisi adalah gereja, tempat beribadat dan disisi lainnya adalah restoran dan bar yang menjual minuman keras dan memutar musik dengan sangat keras. Di lorong-lorong juga banyak pengamen yang memainkan alat musik diantaranya gitar, biola dan bagpipe, alat musik khas scotlandia. Juga banyak kios-kios kecil beratapkan tenda yang menjual pernak-pernik khas Camino de Santiago
Sekitar jam 8 pagi keesokan harinya kami terbangun oleh suara rombongan anak-anak TK yang berjalan-jalan. Ketika kami keluar mobil mereka menyapa kami dan melambaikan tangan, lucu sekali. Karena udara pagi itu cukup hangat, kami mandi di sungai dekat tempat parkir lalu sarapan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang juga merupakan tujuan akhir dari peziarah Camino de Santiago. Fisterra ! 😍

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home