Spain Adventure
Hi !!! Apa kabar ?? Ketemu lagi kita setelah cukup lama saya tidak memposting apapun. Selama lebih kurang 3 minggu ini, kami sedang menyiapkan mobil untuk petualangan di musim dingin. Tadinya kami berpikir untuk tinggal dirumah selama musim dingin, tapi kemudian berubah pikiran. Masa hanya karena dinginnya cuaca kami hanya berdiam diri di rumah. Bisa-bisa malah pecah perang dunia hahaha....lalu kami memutuskan untuk memodifikasi mobil supaya siap dipakai berpetualang di musim dingin. Untunglah semua selesai tepat waktu, satu minggu sebelum salju turun pertama kali πdan sekarang saya punya lebih banyak waktu untuk menyelesaikan cerita perjalanan musim panas kami.
Fisterra
Fisterra hanya berjarak sekitar 80 km atau satu jam perjalanan dari Santiago de Compostella. Tapi sebelumnya kami mampir dulu di fervenza do Ezaro, ini adalah ujung sungai Xallas yang mengalir dari Dumbria ke Carnota menembus bebatuan sehingga membentuk sebuah air terjun yang spektakuler. Sayang keindahannya sedikit terganggu dengan pembangunan waduk dan pembangkit listrik tenaga air. Kita sudah bisa menyaksikan keindahan air terjun ini dari view point di puncak bukit sebelum masuk ke area parkir dibawah, kurang lebih 1 km sebelum pintu masuk air terjun. Kebanyakan pengunjung hanya berhenti sekitar 5-10 menit saja untuk berfoto dengan latar belakang air terjun atau pantai, lalu melanjutkan perjalanan. Ada 2 view point untuk melihat air terjun dan mengambil foto dari atas, salah satunya membutuhkan sedikit keberanian karena kita harus memanjat dan melompat dari satu besar ke batu besar lainnya untuk mendapatkan hasil foto yang indah, karena sebenarnya ini bukan area view point yang disediakan untuk pengunjung. Tapi jika anda takut ketinggian atau membawa anak-anak sebaiknya berhenti di view point yang sesungguhnya saja, lebih aman π
Hari itu kami beruntung bisa langsung mendapat tempat parkir, dekat dengan jalan masuk. Di lokasi parkir terdapat area makan dan food stand, toilet umum serta kantor tourist information. Untuk menuju tempat jatuhnya air terjun ini, kita harus berjalan masuk melalui jembatan kayu sejauh lebih kurang 500 meter. Mungkin karena yang dilihat hanya sebuah air terjun dan tidak terlalu luas, wisatawan hanya berfoto dan langsung kembali ke area makan atau melanjutkan perjalanan ke tempat wisata yang lainnya. Jadi dari ujung jembatan kayu sudah terlihat rombongan wisatawan yang berjalan keluar masuk. Didepan air terjun kami masih harus antri untuk bisa berfoto tepat didepan jatuhnya air.
Kami belum puas jika hanya mendapat foto yang biasa-biasa dan bisa dimiliki siapa saja, jadi kami kembali menjadi bajing loncat dari satu batu ke batu yang lain menuju ke tengah sungai supaya mendapat hasil foto yang "lebih menantang". Jika ingin meniru kami, jalan menuju batu ditengah sungai berada dibawah jembatan kayu. Anda harus merambat dibawah lambu sorot lalu melompat ke batu-batu besar yang berjejer ke arah tengah. Tipsnya adalah melepas sepatu karena batunya licin dan jangan lupa membawa baju ganti, persiapan jika anda gagal melompat dan tercebur ke sungai haha
Setelah berfoto kami kembali ke area makan dan menyiapkan makan siang kami sendiri di bangku dan meja beton yang tersedia disana. Agak panas sih, karena tidak disediakan payung besar seperti jika kita makan dan memesan makanan dari food stand. Cukup banyak pengunjung yang piknik disana seperti kami, bawa makanan sendiri dan duduk-duduk di bangku beton atau di rumput. Tapi harga makanan di food stand juga tidak terlalu mahal, hanya saja pilihan jenis makanannya terbatas.
Karena tujuan utama kami bukan disana, setelah makan kami melanjutkan perjalanan menuju Fisterra. Pemandangan di sepanjang jalan adalah laut dan muara yang dipenuhi kapal-kapal nelayan. Tidak lama, hanya sekitar 40 menit berkendara kami sudah tiba di Fisterra. Berjarak 98 km dari Santiago de Compostella, ini adalah tujuan akhir dari banyak peziarah, atau dikenal juga sebagai 0 km of Camino de Santiago. Berada di Costa de Monte yang berbatu-batu, tempat ini juga dikenal dengan sebutan Pantai Kematian karena banyaknya bangkai kapal di sepanjang pantai. Nama Fisterra sendiri berasal dari bahasa latin Finis Terrae yang berarti akhir tanah, atau jika bisa juga diartikan sebagai semenanjung.
Dari jauh kita bisa melihat mercusuar yang dikenal sebagai Monte Facho, sayangnya tidak terbuka untuk umum, jadi kita hanya bisa melihat dari luar bangunan saja. Di jalan menuju mercusuar juga ada sebuah gereja paroki Santa Maria de Fisterra. Masuk lebih jauh, dibelakang bangunan mercusuar kita akan melihat tumpukan sepatu, topi, tongkat dan berbagai benda yang dibawa peziarah sepanjang perjalanan dibuang disana sebagai pengingat. Cuaca yang sangat panas tidak menghalangi pengunjung dan peziarah untuk menikmati keindahan Fisterra. Mereka, termasuk kami, dan terutama para peziarah, duduk-duduk ditepian semenanjung yang curam tapi menakjubkan. Tidak terlalu tahan dengan panasnya cuaca, kami menyempatkan diri berfoto dibatu tanda berakhirnya camino, lalu segera kembali ke area parkir yang jaraknya lumayan jauh dari bangunan mercusuar.
Hari itu kami juga punya janji untuk bertemu dengan salah satu teman dari Indonesia yang tinggal dekat Fisterra. Jam 1 siang kami bertemu di dekat pantai dan ngobrol-ngobrol disana. Dari mereka kami tahu tempat-tempat mana saja di Galicia yang layak untuk kami kunjungi selain Fisterra dan Fraga de Eume yang memang sudah masuk dalam bucket list kami. Sekitar jam 5 sore kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Coruna, salah satu kota yang direkomendasikan oleh mereka. Terima kasih untuk mbak Retiani dan suami yang sudah meluangkan waktunya untuk bertemu kami di Fisterra.
Selanjutnya, saya akan menceritakan keseruan kami nonton konser musik dan menghadiri pernikahan di Coruna. Sampai jumpa di Coruna !!
