Monday, November 29, 2021

 Spain Adventure


Hi !!! Apa kabar ?? Ketemu lagi kita setelah cukup lama saya tidak memposting apapun. Selama lebih kurang 3 minggu ini, kami sedang menyiapkan mobil untuk petualangan di musim dingin.  Tadinya kami berpikir untuk tinggal dirumah selama musim dingin, tapi kemudian berubah pikiran. Masa hanya karena dinginnya cuaca kami hanya berdiam diri di rumah. Bisa-bisa malah pecah perang dunia hahaha....lalu kami memutuskan untuk memodifikasi mobil supaya siap dipakai berpetualang di musim dingin.  Untunglah semua selesai tepat waktu, satu minggu sebelum salju turun pertama kali πŸ˜ƒdan sekarang saya punya lebih banyak waktu untuk menyelesaikan cerita perjalanan musim panas kami. 
 

Fisterra



 
Fisterra hanya berjarak sekitar 80 km atau satu jam perjalanan dari Santiago de Compostella. Tapi sebelumnya kami mampir dulu di fervenza do Ezaro, ini adalah ujung sungai Xallas yang mengalir dari Dumbria ke Carnota menembus bebatuan sehingga membentuk sebuah air terjun yang spektakuler. Sayang keindahannya sedikit terganggu dengan pembangunan waduk dan  pembangkit listrik tenaga air.  Kita sudah bisa menyaksikan keindahan air terjun ini dari view point di puncak bukit sebelum masuk ke area parkir dibawah, kurang lebih 1 km sebelum pintu masuk air terjun.  Kebanyakan pengunjung hanya berhenti sekitar 5-10 menit saja untuk berfoto  dengan latar belakang air terjun atau pantai, lalu melanjutkan perjalanan. Ada 2 view point untuk melihat air terjun dan mengambil foto dari atas,  salah satunya membutuhkan sedikit keberanian karena kita harus memanjat dan melompat dari satu besar ke batu besar lainnya untuk mendapatkan hasil foto yang indah, karena sebenarnya ini bukan area view point yang disediakan untuk pengunjung. Tapi jika anda takut ketinggian atau membawa anak-anak sebaiknya berhenti di view point yang sesungguhnya saja, lebih aman 😊





Hari itu kami beruntung bisa langsung mendapat tempat parkir, dekat dengan jalan masuk. Di lokasi parkir terdapat area makan dan food stand, toilet umum serta kantor tourist information. Untuk menuju tempat jatuhnya air terjun ini, kita harus berjalan masuk melalui jembatan kayu sejauh lebih kurang 500 meter. Mungkin karena yang dilihat hanya sebuah air terjun dan tidak terlalu luas, wisatawan hanya berfoto dan langsung kembali ke area makan atau melanjutkan perjalanan ke tempat wisata yang lainnya. Jadi dari ujung jembatan kayu sudah terlihat rombongan wisatawan yang berjalan keluar masuk. Didepan air terjun kami masih harus antri untuk bisa berfoto tepat didepan jatuhnya air. 

Kami belum puas jika hanya mendapat foto yang biasa-biasa dan bisa dimiliki siapa saja, jadi kami kembali menjadi bajing loncat dari satu batu ke batu yang lain menuju ke tengah sungai supaya mendapat hasil foto yang "lebih menantang". Jika ingin meniru kami, jalan menuju batu ditengah sungai berada dibawah jembatan kayu. Anda harus merambat dibawah lambu sorot lalu melompat ke batu-batu besar yang berjejer ke arah tengah. Tipsnya adalah  melepas sepatu karena batunya licin dan jangan lupa membawa baju ganti, persiapan  jika anda gagal melompat dan tercebur ke sungai haha 









Setelah berfoto kami kembali ke area makan dan menyiapkan makan siang kami sendiri di bangku dan meja beton yang tersedia disana. Agak panas sih, karena tidak disediakan payung besar seperti jika kita makan dan memesan makanan dari food stand. Cukup banyak pengunjung yang piknik disana seperti kami, bawa makanan sendiri dan duduk-duduk di bangku beton atau di rumput. Tapi harga makanan di food stand juga tidak terlalu mahal, hanya saja pilihan jenis makanannya terbatas.

Karena tujuan utama kami bukan disana, setelah makan kami melanjutkan perjalanan menuju Fisterra. Pemandangan di sepanjang jalan adalah laut dan muara yang dipenuhi kapal-kapal nelayan. Tidak lama, hanya sekitar 40 menit berkendara kami sudah tiba di Fisterra. Berjarak 98 km dari Santiago de Compostella, ini adalah tujuan akhir dari banyak peziarah, atau dikenal juga sebagai 0 km of Camino de Santiago. Berada di Costa de Monte yang berbatu-batu, tempat ini juga dikenal dengan sebutan Pantai Kematian karena banyaknya bangkai kapal di sepanjang pantai. Nama Fisterra sendiri berasal dari bahasa latin Finis Terrae yang berarti akhir tanah, atau jika bisa juga diartikan sebagai semenanjung. 

Dari jauh  kita bisa melihat mercusuar yang dikenal sebagai Monte Facho, sayangnya tidak terbuka untuk umum, jadi kita hanya bisa melihat dari luar bangunan saja. Di jalan menuju mercusuar juga ada sebuah gereja paroki Santa Maria de Fisterra. Masuk lebih jauh, dibelakang bangunan mercusuar kita akan melihat tumpukan sepatu, topi, tongkat  dan berbagai benda yang dibawa peziarah sepanjang perjalanan dibuang disana sebagai pengingat. Cuaca yang sangat panas tidak menghalangi pengunjung dan peziarah untuk menikmati keindahan Fisterra. Mereka, termasuk kami, dan  terutama para peziarah, duduk-duduk ditepian semenanjung yang curam tapi menakjubkan. Tidak terlalu tahan dengan panasnya cuaca, kami menyempatkan diri berfoto dibatu tanda berakhirnya camino, lalu segera kembali ke area parkir yang jaraknya lumayan jauh dari bangunan mercusuar.









Hari itu kami juga punya janji untuk bertemu dengan salah satu teman dari Indonesia yang tinggal dekat Fisterra. Jam 1 siang kami bertemu di dekat pantai dan ngobrol-ngobrol disana. Dari mereka kami tahu tempat-tempat mana saja di Galicia yang layak untuk kami kunjungi selain Fisterra dan Fraga de Eume yang memang sudah masuk dalam bucket list kami.  Sekitar jam 5 sore kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Coruna, salah satu kota yang direkomendasikan oleh mereka. Terima kasih untuk mbak Retiani dan suami yang sudah meluangkan waktunya untuk bertemu kami di Fisterra. 

Selanjutnya, saya akan menceritakan keseruan kami nonton konser musik dan menghadiri pernikahan di Coruna. Sampai jumpa di Coruna !!





Wednesday, November 3, 2021

 Spain Adventure

Santiago de Compostella




Turun dari Combarro view point kami kembali lagi ke fountain di bawah untuk mandi, mencuci perlengkapan memasak dan mengisi persediaan air di mobil. Jika menemukan fountain atau sungai, kami selalu sempatkan mandi dan mencuci, karena  tidak tahu kapan lagi akan menemukan air berlimpah seperti saat ini. Selesai mandi  datang 3 gadis  remaja yang berhenti untuk beristirahat dan mengisi air minum disana. Kami ngobrol sebentar, mereka melakukan Camino dan sudah berjalan selama 3 hari. Memang banyak jalur menuju Santiago de Compostella, salah salah satunya yang melewati Combarro. Jarak yang terdekat untuk mendapatkan semacam sertifikat adalah 100 km seperti yang mereka lakukan, dan lebih kurang selama 5 hari berjalan. Saat musim liburan seperti sekarang ini, semakin banyak orang melakukannya, terutama remaja seperti mereka.  

Maka kami putuskan tujuan kami selanjutnya adalah Santiago de Compostella. Hanya 1 jam berkendara atau sekitar 68 km dari Combarro. Sepanjang jalan kami melihat banyak sekali rambu-rambu,  para pejalan kaki dan albergue, maklum, sudah mulai mendekati titik akhir camino. Alberque adalah asrama bagi para peziarah. Konsepnya mirip seperti hostel. Biasanya memiliki satu atau beberapa kamar dengan tempat tidur susun, toilet bersama, dapur dan area umum. Tarifnya dihitung per-orang dan berkisar antara 15-30 euro. Mendekati kota Santiago, jalanan semakin ramai dengan mobil-mobil. Yakin akan sulit mencari tempat parkir,  kami berhenti di gedung pusat kesenian, perpustakan dan stadion yang memiliki lahan parkir sangat luas agak diluar kota. Sayangnya tidak ada tempat teduh karena gedung ini tergolong masih baru dan pohon-pohon yang ditanam di lahan parkir masih kecil dan pendek.  Meskipun jauh dari pusat kota, lahan parkir disanapun ternyata penuh, dan rupanya stadion hari itu digunakan sebagai tempat vaksin covid bagi penduduk Santiago. Di gedung kesenian juga  sedang ada pertunjukan drama. Ketika tahu tujuan kami adalah ke Katedral Santiago de Compostella, seseorang yang parkir disebelah kami berkata kalau hari itu Katedral lebih ramai dari hari-hari biasanya. Wah...kalau hari biasa saja yang datang kesana bisa ratusan orang orang, bagaimana jika sedang ramai ya? 

Kami masih harus berjalan lumayan jauh, kira-kira 3 km dari Katedral kami menemukan lahan parkir yang luas dan rindang. Sebas kembali untuk mengambil dan memindahkan mobil kesini karena menurutnya kami bisa tidur disitu malam nanti. Saya memilih menunggu saja dibawah pohon. Biar deh dibilang gak setia, daripada jalan lagi ke stadion. Setelah berjalan hampir 1 jam dibawah terik matahari, duduk dibawah pohon jauh lebih menggiurkan buat saya. Ketika kembali, mobil kami parkir dibawah pohon yang agak jauh dari jalan raya, supaya nanti malam tidak terlalu bising dengan suara mobil-mobil yang lewat. Tapi perjuangan belum selesai, kami masih harus berjalan lagi ke Katredral. Memotong jalan melalui belakang halaman rumah penduduk dan  menyusuri sungai, kira-kira 30 menit kemudian barulah kami melihat menara Katedral. Baru melihat menaranya saja kami sudah girang bukan main. 

Siang itu jalanan sepi. Tidak ada mobil yang parkir ditengah kota karena sepertinya memang tidak diperbolehkan. Entah karena saat itu jam siesta atau  karena kami melewati jalan yang berbeda dari yang biasanya dilalui peziarah, kami hanya berpapasan dengan beberapa orang saja. Bersama kami  ada seorang peziarah lain yang mengendarai sepeda. Jalan yang kami lalui sangat menanjak, kami saja yang berjalan kaki saja kesulitan, apalagi dia yang menggenjot sepeda. Di atas pintu-pintu rumah terlihat lambang khas Camino menyerupai rumah kerang dan tahun pembangunannya. Dilihat dari tahun pembuatannya, rata-rata rumah disana sudah berumur ratusan tahun. Semakin mendekati katedral, jalanan semakin ramai. Disekitar kami lihat banyak cafe, restoran dan hotel yang semuanya penuh pengunjung. Lebih kurang jam 3 sore, akhirnya kami bisa melihat secara langsung penampakan katedral Santiago de Compostella yang terkenal itu. Kami masuk dari arah samping kiri katedral. Dihalaman penuh dengan peziarah, dan untuk masuk ke dalam katedral ada antrian yang cukup panjang. Padahal tidak dibatasi, tapi antriannya sampai hampir keluar halaman katedral. 




Dipintu masuk barang bawaan kami diperiksa satu persatu, dan kami dilarang melepas masker meskipun untuk berfoto. Mungkin karena bangunannya yang terlalu besar, antrian panjang para pengunjung yang kami lihat diluar tadi seperti tidak ada apa-apanya. Kami masih bisa berfoto dengan leluasa sambil mencuri-curi kesempatan berfoto tanpa masker hehehe.... Petugas penjagaan mondar-mandir dan berulang-ulang mengumumkan bahwa kami dilarang berbicara dan menyentuh tembok. Sayangnya bagian terpenting dari cerita sejarah, yaitu pilar yang berjejak telapak tangan, tidak bisa kami lihat. Mungkin karena pandemi sehingga bagian tersebut ditutup supaya pengunjung tidak menyentuhnya. Mas penjaga yang bertubuh lebih kekar dari Sebas berjaga disana. Untuk sekedar mendekatipun kami tidak diperbolehkan.










Menurut sejarah, katedral ini dibangun pada abad ke-10 dibawah pemerintahan Alfonso VI dari Kastilla yang mendapat perlindungan dari uskup Diego Palaez. Bangunannya dibuat sesuai rencana yang sama dengan gereja di Toulouse, Perancis. Sebagian besar bangunan menggunakan granit. Langit-langitnya sangat tinggi dan ornamen-ornamennya berwarna keemasan.  Saya tidak tahu apakah hanya cat berwarna emas atau memang berlapis emas. Setelah melihat-lihat bagian dalam katedral kami keluar untuk makan siang di halaman. Disana kami mendengar kalau jam 19.00 nanti akan ada misa. Sebas mengajak saya untuk mengikuti misa malam. Tumben-tumbenan nih Sebas ngajak ikut misa. Petugas penjaga dipintu keluar memberitahu kami kalau peserta misa dibatasi hanya 250 orang saja, dan jika kami ingin ikut misa sebaiknya masuk dan menunggu didalam. Wah, padahal masih 2 jam lagi, jadilah kami kembali ke pintu masuk dan mengantri. Setelah didalam kami langsung mencari tempat duduk, lebih baik duduk menunggu daripada harus keluar lagi karena tidak mendapat tempat. 

Tepat jam 19.00 dua orang petugas gereja naik ke mimbar. Mereka mengumumkan  dalam 2 bahasa, Perancis dan Belanda, bahwa bilik convension atau pengakuan dosa sudah dibuka dan mempersilahkan peserta misa yang ingin membuat pengakuan dosa. Pengakuan dosa disediakan dalam beberapa bahasa; Inggris, perancis, belanda, spanyol dan tagalog. Setelah itu seorang seorang biarawati maju ke mimbar dan menyanyikan pujian, suaranya merdu sekali.  Semenjak pindah ke Spanyol, belum pernah saya melihat hal itu, meskipun kami sudah menghadiri berkali-kali misa di berbagai gereja. Lalu uskup datang dan memimpin misa dalam bahasa Spanyol. Di tengah misa, ketika biarawati kembali menyanyikan pujian, kami dikejutkan dengan suara organ pipa yang dimainkan tepat diatas tempat duduk kami. Wah, ini juga baru pertama kalinya kami dengar. Kami kira organ pipa sudah tidak dimainkan lagi dan hanya dijadikan sebagai hiasan gereja atau katedral. Saking kagumnya, kami sampai tidak lagi serius mengikuti misa karena berkali-kali mendongakkan kepala mengagumi musik yang keluar dari pipa-pipa diatas kami. Saya dan Sebas setuju bahwa hari itu adalah misa terindah yang pernah kami ikuti. 




Misa berakhir jam 20.00 dan pintu katedral langsung ditutup ketika peserta misa terakhir keluar. Di depan pintu keluar kami melihat air mancur dan menyempatkan berfoto disana. Lalu kami berjalan ke bagian depan dari katedral yang seharusnya menjadi pintu masuk utama. Tapi semenjak pandemi ditutup total dan peziarah hanya diperbolehkan masuk melalui pintu samping. Di halaman depan kami lihat lebih banyak lagi peziarah yang berada disana untuk sekedar berfoto atau duduk-duduk dan beristirahat. Di arah kanan katedral adalah sebuah hotel bintang 5 yang pernah menjadi lokasi syuting film The Way yang juga menceritakan tentang perjalanan seseorang yang melakukan camino de santiago.





Puas berfoto kami berjalan-jalan mengelilingi kota Santiago sambil menunggu saat matahari terbenam. Disekeliling katedral ternyata masih banyak gereja-gereja kecil, monastery dan juga cafe, bar serta restoran. Pemandangan yang sangat kontras, disatu sisi adalah gereja, tempat beribadat dan disisi lainnya adalah restoran dan bar yang menjual minuman keras dan memutar musik dengan sangat keras. Di lorong-lorong juga banyak pengamen yang memainkan alat musik diantaranya gitar, biola dan bagpipe, alat musik khas scotlandia. Juga banyak kios-kios kecil beratapkan tenda yang menjual pernak-pernik khas Camino de Santiago







Setelah matahari terbenam kami kembali ke tempat parkir, menyiapkan shower tent dan merebus air untuk mandi karena udara disana sangat dingin setelah matahari terbenam meskipun sedang musim panas. Kami memasak makan malam dan tidak seperti biasanya, malam itu kami tidak langsung tidur setelah makan. Kami ngobrol dan menikmati tempat parkir yang malam itu serasa milik kami berdua saja, karena hanya kami yang parkir disitu. 

Sekitar jam 8 pagi keesokan harinya kami terbangun oleh suara rombongan anak-anak TK yang berjalan-jalan. Ketika kami keluar mobil mereka menyapa kami dan melambaikan tangan, lucu sekali. Karena udara pagi itu cukup hangat, kami mandi di sungai dekat tempat parkir lalu sarapan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang juga merupakan tujuan akhir dari peziarah Camino de Santiago. Fisterra ! 😍