Saturday, September 23, 2023

TERDAMPAR DI BEZIERS, KOTA TUA YANG CANTIK




Mungkin tidak banyak yang tahu, Beziers adalah salah satu kota tertua di bagian selatan Perancis, tepatnya di daerah Languedoc. Ini bisa terlihat dari arsitektur gedung-gedung bersejarahnya yang sangat indah dan lorong-lorong sempit berbatu yang semakin menambah kesan kuno. Kamipun berhenti di Beziers secara tidak sengaja. Dalam perjalanan dari Spanyol menuju Norway, setelah singgah semalam di Narbonne untuk beristirahat, mobil kami mengalami masalah mesin dan harus mengganti spare-part. Sialnya, kami tiba rabu sore dan spare-part yang mobil kami butuhkan tidak tersedia di bengkel sehingga harus dipesan dan didatangkan dari Marseille, sedangkan hari jumat adalah perayaan hari Bastille, semua bisnis tutup kecuali restoran, sehingga mobil tidak mungkin bisa kami ambil hingga hari senin atau selasa. Jadilah kami terpaksa menginap beberapa malam disana.

Berjam-jam di bengkel menunggu kabar dari asuransi perihal akomodasi kami sampai mobil selesai diperbaiki, akhirnya saya memutuskan booking hotel terdekat dari bengkel. Hotel F1 dengan tarif sebesar 60€/malam. Lumayankan bisa mandi dan berbaring sambil menunggu kepastian dari pihak asuransi. Karena berdasakan pengalaman tahun lalu ketika mobil kami dibobol maling di Roma, kamilah yang harus mengambil inisiatif berulang kali menelpon pihak asuransi dan akhirnya mengganti sendiri kaca mobil yang pecah sebelum akhirnya mereka mengganti biayanya setelah berbulan-bulan dan puluhan email kami kirim ke pihak asuransi. Entah pilihan asuransi kami yang buruk ataukah memang birokrasi kantor asuransi Spanyol yang lambat.  Kamis paginya kami mendapat kepastian dari pihak asuransi (setelah berkali-kali menelepon) dan mereka mengirimkan taksi dan memindahkan kami ke hotel di tengah kota. Kami dipindahkan ke Hotel Zetenite, ini adalah hotel semi-apartement yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki dari pusat kota Beziers. Pihak asuransi hanya menanggung biaya menginap selama 4 hari, selebihnya kami harus membayar sendiri. Kamarnya memiliki dapur didalam. Ini juga  salah satu kiat kami untuk menghemat budget jika harus menginap di hotel, jadi kami bisa memasak, meskipun hanya makanan sederhana, karena harga makanan di restoran jauh lebih mahal daripada kami memasak sendiri. Disini tarif permalamnya 90€ tapi jika kita menginap beberapa malam, harganya bisa sangat jauh berbeda. Untuk 5 hari, kami dikenakan tarif 70€ per-malamnya. Jadi selama 6 hari kami stucked di Beiziers, kami hanya mengeluarkan biaya penginapan sendiri selama 2 hari,  sisanya ditangggung pihak asuransi termasuk breakfast untuk 2 orang dengan budget 10€ per-orang/harinya. Meskipun kami menerapkan low budget travelling, kadang-kadang kami juga tidak ingin terlalu ketat dengan budget. Jadilah hari itu kami makan siang disebuah restoran yang menyajikan menu masakan Vietnam, nama restorannya Fleurs d`Asie. Kami tidak salah pilih, selain lokasinya tepat ditengah kota, harganya pun cukup terjangkau (15€ per-porsi), masakannya enak dan pemilik sekaligus kokinya, sangat ramah. Karena kami tidak minum alkohol atau bubble tea (sayangnya tidak banyak pilihan menu untuk minuman) mereka memberi kami 2 botol air dingin, gratis, yang tentu saja terasa sangat nikmat ditengah teriknya suhu dimusim panas. Setelah makan siang kami mampir ke tourist office untuk menanyakan apa saja yang bisa kami lakukan selama 6 hari di Beziers. Ternyata karena kami datang disaat yang tepat karena dibulan juli ini banyak sekali atraksi yang bisa kami datangi, dan hampir semuanya gratis. Pantas saja hotel-hotel penuh dengan turis, kami saja yang tidak tahu kalau Beziers ternyata cukup populer. Dari sana kami kembali ke hotel untuk beristirahat karena malam harinya akan bergabung dengan warga sekitar untuk mengawali perayaan hari Bastille dengan pesta kembang api. 





Sekitar jam 9.30 kami berjalan kaki ke taman di pinggir sungai yang arahnya tepat dibelakang cathedral. Kira-kira 30 menit dari hotel tempat kita menginap. Sampai disana ternyata sudah ramai dengan warga sekitar dan turis yang berkumpul menunggu pesta kembang api. Banyak food truck yang menjual burger, kentang goreng, donat dan aneka jenis makanan siap saji lainnya. Tidak ketinggalan food truck yang khusus menjual wine and beer. Dimeriahkan dengan panggung ditepi sungai dan band lokal yang menyanyikan lagu-lagu era 80an, kami berbaur dengan warga lokal. Jam 11 malam lampu-lampu dipadamkan, tanda bahwa pesta kembang api akan segera dimulai. Jauh lebih indah dari pesta kembang api yang kami lihat di Nice pada perayaan hari Bastille tahun lalu, karena kali ini diiringi musik dan tidak hanya dilangit tapi juga dari bawah jembatan. Pesta kembang api berakhir jam 12 malam tapi panggung musik dan foodtruck masih ada sampai jam 1 dini hari. Lumayanlah, menghibur kekecewaan kami yang gagal nonton konser musik One Republic di Lucca, Italy. 

Karena baru tidur sekitar jam 2 dini hari, kami bangun sekitar jam 10, agak malas keluar hotel karena matahari sudah sangat terik. Niat hati ingin sarapan di hotel saja, tapi setelah mampir ke ruang makan dan melihat makanan yang dihidangkan, sepertinya kurang menarik, jadi kami memutuskan jalan kaki ke plaza mayor, eh, apa ya namanya kalau di perancis ? Semacam alun-alun gitu deh, disitu banyak cafe dan restauran. Bingung memilih, kami berhenti di Columbus cafe & Co, karena mereka men-display roti, cake dan kue-kue nya dengan sangat menarik dan sepertinya enak. Sayangnya, mbak-mbak yang melayani kami hari itu sangat  tidak ramah. Karena keterbatasan bahasa (bahasa perancis kami tidak terlalu bagus dan mereka tidak mengerti bahasa inggris) jadi kami salah mengerti jika menu yang kami pilih termasuk  teh dan bukan kopi. Setelah membayar dan kami tidak melihat kopi dinampan, kami minta ditambahkan kopi dan bertanya tentang pilihan menu kopinya, si mbak sepertinya kesal dan menjawab dengan kasar lalu memberikan pesanan kami dengan setengah membanting bakinya. Waduh....sampai kaget dan saya cuma bisa bengong didepan mesin kasir. Kami memesan Expresso, tapi terlihat seperti air kotor dan tidak berasa kopi. Tehnya pun hanya seperti air yang ditetesi perasa vanilla. Untung baggle nya lumayan enak dan teras tempat kami duduk juga sejuk, rasa sebal dijahatin mbaknya agak terobati deh, tapi gak lagi kami akan kembali kesana. 




Hal pertama yang kami lakukan setelah sarapan adalah nonton parade. Karena lokasinya tepat didepan kami duduk. Agak kurang seru karena hanya beberapa baris. Diawali dengan drumband, lalu veteran, anggota polisi, pemadam kebakaran dan diakhiri dengan anak sekolah. Mereka hanya berjalan lebih kurang 300 meter, dan berhenti ditaman kota untuk mendengarkan pidato (mungkin) walikota. Cuma sekitar satu satu jam saja, kerumunan massa bubar dan kami menyusuri lorong-lorong jalan berbatu peninggalan roman dipusat pertokoan. Untung tutup, jadi kami gak gelap mata berbelanja. Karena matahari sudah sangat menyengat, kami memutuskan kembali ke hotel, ngadem di kamar dan nonton film yang sudah kami download dari rumah. 

Sempat tidur siang yang kesorean, kami bangun jam 8 dan bersiap-siap untuk kembali ke taman kota, karena menurut informasi yang kami dapat dari tourist office, setiap hari pada jam 9.30 dan 11 malam akan ada atraksi air terjun bernyanyi. Bayangan kami sih seperti di Singapore, hladalaaah...ternyata cuma air nyemprot yang disentrong lampu dan diiringi lagu-lagu Perancis, tidak spektakuler tapi lumayanlah untuk hiburan selama kami stuck di Beziers.

Hari ke-3 kami awali dengan sarapan pagi di kedai roti, tempat ini kami pilih karena panjangnya antrian, salah satu tanda bahwa (mungkin) roti dan kopinya enak. Bahkan kami lihat seseorang berseragam hotel mengambil roti dari situ juga. Ternyata benar, rotinya enak dan yang terpenting, pelayanannya ramah. Setelah sarapan kami naik kereta kelinci keliling kota. Tatifnya 15€ untuk 2 orang. Berkeliling selama 75 menit, ternyata Beziers cukup besar. Naik kereta kelinci juga bisa jadi referensi tujuan kami selanjutnya, karena kita akan dibawa ketempat-tempat yang menarik di seputar kota. Setelah berkeliling karena masih belum terlalu panas, kami memutuskan untuk berjalan kaki ke mall. Lumayanlah, kira-kira 1 jam berjalan santai dari stasiun kereta kelinci (lebih kurang 5 atau 6 km). Mall ini cukup besar dan berkonsep outdoor. Lantai 3nya dikhususkan untuk restauran. Karena kami datang pada jam makan siang, semua restauran penuh. Kami berkeliling dulu melihat berbagai jenis makanan, tapi karena belum terlalu lapar (di Perancis jam makan siang lebih awal dari Spanyol) akhirnya kami masuk ke KFC dan membeli se-bucket ayam untuk berdua. Selesai makan kami kembali ke hotel karena tidak tahan dengan cuaca panas. 

Jam 8 malam kami keluar lagi menuju Cathedral, ada pertunjukan laser yang digelar setiap malam pada jam 10 dan 11.30  Kami mampir makan malam di Le Petit Marais, restauran ini terkenal dengan Moules-frites nya. Hidangan populer yang berbahan dasar kerang yang dikukus dengan anggur putih bawang merah dan mentega. Disajikan dalam panci ditemani dengan kentang goreng yang renyah. Karena saya gak doyan kerang, saya memilih memesan beef steak. Sebas nekad memesan Moules frites yang ternyata seporsinya datang dengan panci yang sangat besar dan sebotol white wine. Alhasil, dia kekenyangan. Bisa dibayangkan seberapa besar porsinya kan ? Setelah makan kami ke Cathedral, antrian pengunjung sudah lumayan panjang. Padahal atraksi ini sudah ada sejak awal bulan, jadi kira-kira sudah 2 mingguan. Dalam hati saya, waaah..pasti spektakuler nih. Dan ternyata benar, pertunjukan lasernya benar-benar menakjubkan, kita seperti dibawa ke dalam hutan, lalu dari langit-langit seperti muncul air yang kemudian memenuhi cathedral dan kita seperti menyelam ke dalam laut bersama ikan-ikan. Benar-benar indah. Walaupun menurut saya kurang lama, hanya sekitar 30 menit saja (tidak sebanding dengan lamanya mengantri untuk masuk) tapi cukup memuaskan. 

Keesokan paginya kami bingung harus menghabiskan waktu dimana, karena dengan  cuaca yang sangat panas tidak mungkin kami berada diluar sepanjang hari, tapi berdiam diri dikamarpun bukan pilihan. Akhirnya kami memutuskan piknik di taman kota, tidur-tiduran dibawah pohon besar yang rindang. Tapi setelah 2 jam, bosan juga. Akhirnya kami berjalan ke stasiun kereta yang berada tepat didepan taman, dan naik bis menuju pantai. Ongkos bis ke pantai 2 euro per-orang. Karena penuh, kami terpaksa berdiri dan ternyata perjalanan kesana lumayan lama. Sekitar 40 menit kami baru tiba di pantai, jangan ditanya panasnya seperti apa. Kami tidak berlama-lama di pantai, sebelum kembali ke halte bis, kami melewati deretan restaurant, salah satunya adalah kedai ice cream. Kami tertarik melihat pasangan yang duduk berhadapan dan dimejanya ada 2 gelas ice cream yang sangat besar. Akhirnya kami ikut-ikutan pesan ice cream walaupun hanya 1 karena kami tidak yakin mampu menghabiskannya kalau memesan sendiri-sendiri. Benar saja, makan 1 porsi ice cream berdua saja sudah kekenyangan, apalagi kalau memesan sendiri-sendiri. 

Kembali ke hotel kami habiskan sisa malam dengan mencuci baju dengan harapan besok pagi mobil sudah bisa kami ambil dan kami bisa melanjutkan perjalanan ke Norway. Puji syukur, setelah sarapan bengkel menelpon kalau mobil sudah selesai diperbaiki dan bisa diambil. Tapi drama asuransi masih berlanjut, kami menunggu taksi yang dikirim oleh pihak asuransi lebih dari 2 jam. Jam 1 siang barulah taksi datang mengantar kami ke bengkel daaaaan kami harus menunggu lagi karena bengkel tutup, istirahat siang sampai jam 2. Tepat jam 4 barulah kami bisa keluar bengkel dan melanjutkan perjalanan liburan musim panas kami. Sedikit diluar rencana,kehilangan kesempatan nonton konser musik One Republic di Itali, tapi saya tetap bahagia, karena jika mobil kami tidak tiba-tiba mogok, mungkin kami tidak akan pernah tahu, ada sebuah kota tua yang sangat cantik yang layak untuk dikunjungi. Beziers !!

Tuesday, August 22, 2023

IT'S NOT ABOUT THE DESTINATION, IT'S ABOUT THE JOURNEY





Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami selalu melakukan perjalan ke arah utara pada saat summer. Alasan utama kami memilih destinasi sebenarnya adalah untuk menghindari suhu yang menjadi sangat panas di belahan eropa selatan saat summer. Jika tahun lalu kami melipir di coastline menuju Switzerland, tahun ini kami lewat tengah menuju ke Norway. Sejak januari kami sudah mulai menghitung-hitung berapa jarak yang harus kami tempuh selama liburan. Dari rumah menuju Norway, perkiraan jarak tempat-tempat yang akan kami kunjungi dan perjalanan kembali ke rumah. Ini untuk memudahkan kami mematok budjet liburan. Tahun lalu kami menempuh 4.756 km, lebih-kurang 850€ hanya untuk bahan bakar dengan total pengeluaran 1.876€ mengunjungi 7 negara selama 42 hari berlibur. Dan tahun ini kami sudah bisa memastikan akan  lebih dari dua kalinya. Dari rumah menuju Oslo saja sudah sekitar 4000 km, ditambah rute selama di Norway yang diperkirakan sekitar 3000 km dan kembali ke rumah, mungkin kami akan berkendara lebih dari 10.000 km. Setelah dihitung, untuk bahan bakar kami harus menyiapkan sekitar 2000€. Pasti akan muncul pertanyaan, jika untuk bahan bakar saja sudah menghabiskan biaya yang tidak sedikit, mengapa kami masih nekad travelling dengan mobil? Apakah tidak lebih mudah dan murah dengan transportasi umum?  Jawabannya adalah tidak. Jika kita pergi sendiri, kemungkinan lebih murah dan dan mudah dengan transportasi umum, tinggal beli tiket dan booking hotel, beres. Tapi kenyataannya tidak begitu lo, karena kita harus tiba lebih awal di bandara, belum lagi jika jam ketibaan terlalu pagi sehingga kita belum boleh check in di hotel/hostel (biasanya tiket pesawat murah selalu di jam-jam yang ajaib), terpaksa ngemper dulu di bandara atau keluar biaya extra untuk nongkrong di cafe atau titip ransel. Btw, travelling dengan mobil untuk 2 orang seperti kami, jauh lebih murah. Pertama, kita bisa skip budget penginapan. Bisa berhenti untuk istirahat kapanpun kita mau, dan memulai perjalanan lagi kapanpun kita siap. gak usah nunggu jam check-in, check-out. Kita juga bisa mencapai tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau dengan transportasi umum, kadang nemu tempat indah yang gak banyak orang tau, istilah sekarang hidden gems. Belum lagi pengalaman yang kita dapat selama perjalanan, ga jarang kami nyasar karena terlalu nurut google maps, cari tempat parkir dan menginap yang kadang tidak mudah - seringkali kali kami terpaksa pindah tempat karena terlalu berisik, berantem soal rute yang harus diambil bahkan pengalaman mobil dibobol maling di Roma yang meskipun menjengkelkan tapi layak untuk dikenang.

Btw, kembali ke cerita perjalanan. Kami berangkat dari Segovia jam 2 siang, rencana awalnya adalah langsung menuju Norway dan hanya berhenti untuk makan dan beristirahat. Explore tempat-tempat yang dilalui akan kami lakukan dalam perjalanan kembali. Tapi dibeberapa tempat, kami tidak bisa menahan diri, walaupun cuma sekedar explore tipis-tipis. Stop point pertama adalah Sitges, kota pantai yang indah di Cataluna, Spanyol. Kira-kira 40km dari Barcelona. Kami tiba sekitar pukul 10 malam, main ke pantai sebentar dan langsung menyiapkan mobil untuk kami tidur. Pagi harinya kami explore sebentar, berjalan kaki disekitar pantai. Masih pagi tapi matahari sudah cukup terik, walaupun sudah pakai topi dan payung badan rasanya seperti meleleh. Pantai indah bukanlah satu-satunya tempat menarik dikota ini, dipenuhi dengan banyak bangunan budaya dan bersejarah, Sitges juga dipenuhi toko, restoran, bar dan club malam yang merupakan surga para turis. Sayangnya saya tidak punya banyak foto ditempat ini, karena sejak bertengkar dan kami berpisah di Stavenger, Norway, Sebas menghapus email saya dari sharing pictures di cloud sehingga saya tidak bisa meng-access semua foto yang kami simpan di cloud bersama. 



Menjelang siang kami sudah tidak tahan dengan panasnya Sitges dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, tapi sebelumnya kami  mandi dulu, dimana? Ditaman hahaha...Kebetulan didepan tempat parkir ada taman yang dilengkapi dengan kran air minum. Dengan modal ember dan mug mie instan yang selalu kami bawa, bikini dan peralatan mandi, jadilah kami jebar jebur sepuasnya disana. Tidak perduli orang-orang melihat kami sambil senyum-senyum. Puas mandi kami melanjutkan perjalanan, mampir sebentar di mall dekat perbatasan, saya lupa dimana, mungkin Girona, untuk makan siang, buang air basar dan menelpon mertua, lalu melanjutkan perjalanan. Ini salah satu trik kami, mampir ke mall, perpustakaan atau hotel berbintang untuk buang air besar karena tidak semua rest area menyediakan toilet bersih. Stop point berikutnya adalah Narbonne, Kami akan menginap semalam disana, disebuah lahan kosong dekat pantai yang direkomendasikan aplikasi park4night, sedikit jauh dari pusat kota. Ketika kami datang sudah banyak mobil dan campervan lain disana, rupanya tempat ini cukup populer. Saya sempat mandi lagi, memasak makan malam, merebus air untuk persediaan membuat kopi besok pagi lalu kami bersantai sambil menonton film sampai matahari tenggelam. Entah kenapa, meskipun sama-sama dipinggir pantai, disini anginnya lebih menderu-deru sehingga kami bisa tidur nyaman dan tidak kegerahan. Paginya kami memulai aktivitas dengan lebih santai, ngopi-ngopi dan sarapan dulu, baru menuju pusat kota Narbonne untuk mengisi jerigen cadangan air minum dan mandi. Saya tidak sepenuhnya ingat apa yang kami lakukan setelah mengisi air, yang saya ingat pagi itu kami naik kereta kelinci keliling kota. Dengan tarif 8€ per-orang, berkeliling kota selama kurang lebih 50 menit, lalu kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan. Sayangnya baru beberapa menit mobil menunjukkan tanda-tanda mengalami masalah. Untuk memastikan, kami berhenti di sebuah bengkel 20 menit sebelum Beziers, tapi mereka menyarankan kami untuk memeriksakan mobil di bengkel khusus Ford di Beziers. Setelah diperiksa, ternyata ada spare-part yang harus diganti dan kami harus menunggu disana sampai mobil selesai diperbaiki seminggu kemudian. Untungnya Beziers ternyata cukup indah. Saya akan menceritakannya lain kali.

Setelah 6 hari menunggu, hari Selasa siang akhirnya bengkel menelpon bahwa mobil sudah selesai diperbaiki. Seharusnya hari Minggu kemarin kami akan berada di Lucca, Italy untuk menonton konser One Republic yang tiketnya sudah saya beli beberapa bulan sebelumnya. Sedikit kecewa, bukan saja kami kehilangan uang tiket konser yang tidak bisa dijual kembali karena waktunya mepet, kehilangan waktu dan harus berada disatu tempat selama seminggu adalah pertama kalinya terjadi selama kami travelling. Masih harus menunggu sampai mereka selesai istirahat makan siang, jam 2.30 mobil bisa kami ambil dan langsung ngebut menuju Norway, hanya berhenti sebentar di sebuah rest area untuk makan malam dan mandi, lalu lanjut hingga tengah malam dan berhenti untuk tidur di sekitar Jussy, Perancis. Jam 5 pagi kami sudah bangun dan melanjutkan perjalanan. Karena kami akan membeli ransel yang saat itu hanya tersisa di Decathlon Roermond, Belanda, jadi kami harus sedikit melenceng, kira-kira 57 km lebih jauh. Melewati Belgia lalu masuk ke wilayah Belanda. Hanya berhenti sebentar untuk membeli ransel, kami langsung tancap gas lagi menuju Hamburg, pit stop kami selanjutnya. Mengambil tempat di parkiran IKEA, agak terkejut karena suhu masih dingin di musim panas sehingga kami perlu mengeluarkan selimut, tapi kami tidur nyaman dan bangun jam 6 keesokan paginya, itupun karena langit sudah terang benderang. Matahari terbit jam 5 pagi. Kami sarapan dan minum kopi dijalan karena ingin segera sampai tujuan. Target kami pada tanggal 21 Juli kami sudah sampai di Oslo. 

Di perbatasan antara Jerman - Denmark, mobil kami dihentikan petugas perbatasan untuk diperiksa kelengkapan dokumen. Untung kami selalu membawa paspor. Tidak semua kendaraan diperiksa, random, mungkin mereka melihat plat mobil kami yang dari Spanyol. Benar juga, rupanya mereka penasaran, apakah memang kami datang langsung dari Spanyol. Setelah basa basi sebentar, kami lanjut, tujuan pertama kami adalah Copenhagen karena kami harus membeli jaket yang mumpuni untuk menghadapi cuaca musim panas di Norway yang ternyata masih sangat dingin.


Untuk mencapai Norway, kami harus melalui  great belt bridge dan Oresundbron bridge,  2 jembatan panjang melintang diatas laut yang berbayar. Oresundbron bridge adalah jembatan dari Denmark menuju Swedia. Saya penasaran, apakah hasilnya akan menjadi milik Denmark saja, Swedia saja atau  untuk kedua negara ya ? Sebetulnya kita bisa naik kapal ferry dengan tarif 160€ untuk mobil dengan 2 penumpang. Tapi kali ini kami ingin mencoba jembatan yang membentang di atas lautan. Naik ferry nya nanti saja, saat perjalanan kembali ke Spanyol. Sebelum melintasi jembatan, kami mengisi penuh bahan bakar, takut tiba-tiba kehabisan ditengah jembatan. Kan gak lucu kalau tiba-tiba mogok dan harus diderek. Melintasi Great Belt Bridge, jembatan pertama, sejauh 6,79 km, kami harus membayar lebih kurang 270 Dkr (36€) dipintu keluar, sedangkan jembatan kedua, Oresundbron Bridge yang lebih panjang, 7,85 km, tarifnya 490 Dkr (66€). Mirip gerbang tol di Indonesia. Total untuk menyeberangi jembatan saja kami harus membayar 102€ belum termasuk bahan bakar. Sudah terbayang, summer ini akan menjadi liburan termahal kami selama ini. Malam itu kami berhenti untuk tidur disekitar Gothenburg, Swedia. Sudah terbayang, besok kami akan tiba di Norwey, dan akan menambah satu lagi centang dalam travel bucket list kami.

Jam 7 pagi kami sudah bersiap berangkat, setelah sarapan dan minum kopi, perjalanan dimulai, karena kami sudah janji bertemu teman yang bekerja sebagai tourist guide di Oslo, dia akan memberi kami city tour gratis jam 11. Masuk perbatasan Norway mobil kami kembali diperiksa, kali ini agak serius, mungkin juga karena Norway tidak tergabung dalam EU meskipun termasuk dalam Schengen area. Ini hanya perkiraan saya saja, karena ga berani nanya ke petugasnya, mereka serius sekali. jam 9 kami berhenti sebentar di rest area untuk ritual pagi, buang air besar, cuci muka dan gosok gigi. Rest area di Norway sangat bersih dan menyediakan air hangat. Air hangat !!!! Sangat mewah untuk kami yang biasa mandi di sungai, fountain atau pinggir jalan. Jam 10.35 sampailah kita di Oslo, lega karena perjalanan panjang, nyetir seperti supir bis antar negara yang cuma berenti untuk makan dan tidur, akhirnya berakhir. 4.395km total jarak yang kami tempuh dari rumah ke Oslo.

Babak baru liburan kami dimulai, saatnya menjelajahi Norway !






Friday, August 11, 2023

IT´S NOT THE END, IT´S THE BEGINNING OF OUR NEW EPISODE



Setelah setahun lebih tidak menulis apapun juga, akhirnya hari ini saya mulai menulis lagi. Perlu beberapa hari memikirkan apakah tulisan ini akan saya posting atau hanya akan saya simpan untuk saya sendiri. Karena ceritanya mungkin akan mengejutkan banyak orang, haha... agak hiperbola, supaya kesannya orang terkenal.  Dan hari ini saya memutuskan untuk membagikan tulisan ini, karena cepat atau lambat beritanya akan menyebar jadi lebih baik saya saja yang mengabarkannya.   

Mengapa saya berhenti menulis dalam jangka waktu cukup lama ? Banyak yang terjadi selama 18 bulan belakangan. Sejak kepindahan kami ke Segovia, sebuah kota kecil di tengah Spanyol, saya lebih banyak disibukkan dengan urusan rumah.  Lalu membuka bisnis Bed & Breakfast dengan memanfaatkan kelebihan kamar yang tidak terpakai dirumah. Karena saat awal-awal kami menetap di segovia, sangat sulit bagi saya untuk mendapatkan pekerjaan karena keterbatasan berbahasa spanyol. Tanpa disangka, bisnis berjalan lancar, hampir setiap hari kami menerima tamu, dan kemudian banyak tamu yang juga memesan makan malam dengan menu masakan Indonesia, membuat saya semakin sibuk. Ditambah lagi  pekerjaan paruh waktu mengajar bahasa inggris untuk anak-anak disekitar rumah, terus terang ini karena kami lupa mencabut iklan penawaran mengajar bahasa inggris murah untuk anak-anak :) dan ketika orang tua mereka menelpon, saya merasa tidak enak untuk menolaknya. Kami juga  masih melakukan perjalanan ke berbagai negara. Mengunjungi Monaco, Itali, Austria, Switzerland, Portugal dan terakhir ke Netherlands. Saya akan menceritakan serunya perjalanan kami ini lain kali.



Anyway, saat ini saya bukan berbagi tips tentang low budget travelling dengan mobil tapi mengabarkan tentang berakhirnya  hubungan kami sebagai suami istri. Yap, banyak teman yang menyayangkan, tidak sedikit  yang berusaha meyakinkan, mendoakan agar kami tetap bersama. Tapi keputusan kami sudah bulat. Bagi kami juga tidak mudah juga untuk sampai ada keputusan ini. Tentu saja ada fase marah, kecewa, sedih, pertengkaran, diskusi sebelum akhirnya kami mencapai kata sepakat dan menyadari bahwa berpisah adalah keputusan yang tepat.  Ini adalah keputusan yang terbaik. Mungkin kami hanya cocok sebagai travel partner, dan bukan sebagai pasangan suami istri. Visi, tujuan dan pandangan kami tentang pernikahan sangat berbeda. Jangan tanya apa penyebabnya dan tidak ada yang perlu dipersalahkan. Ini salah kami berdua dan bagamanapun, kami pernah menjalani masa-masa bahagia selama berumah tangga. Daripada akhirnya hanya saling menyakiti, lebih baik kami berpisah, dan kembali menjadi teman, teman travelling yang selalu satu misi dan visi. Karena hal itulah yang mempertemukan dan mendekatkan kami berdua.  Berharap besar persahabatan dan petualangan kami, akan terus berlanjut, meskipun bukan sebagai pasangan lagi. Kami masih punya banyak mimpi yang belum terlaksana,  melihat keindahan Norway, Finlandia dan Denmark. Membeli campervan dan mengunjungi National Park di Amerika, berpetualang di Afrika dan pergi ke Jerussalem. Semua masih berada di bucket list yang sama. Tinggal menunggu waktu sembari menabung supaya bisa segera direalisasikan. Kami baru saja memulai perjalanan libur musim panas di Norway pertengahan bulan Juli 2023 lalu, sayangnya semua rencana baik berubah, terjadi hal yang tidak mengenakkan dan akhirnya kami benar-benar berpisah. Sepertinya angan-angan untuk tetap travelling bersama tinggal rencana. Sangat disayangkan memang, tapi takdir berkata lain.  Sampai saat menulis ini, perceraian kami masih dalam proses, dan semoga segera selesai.  Mungkin setelah ini saya hanya akan berpetualang sendiri, atau saya akan menemukan travelpartner lain dimasa yang akan datang. Entahlah. Bisa jadi hubungan kami akan kembali membaik dan kami bisa travelling bersama lagi. Tapi bagaimanapun hasil akhirnya, saya yakin saya akan tetap bahagia. Pada saat saya menulis cerita ini, saya sudah pindah dan menetap di Belanda, tapi mungkin saya akan tetap memakai nama yang sama untuk blog saya. Karena sudah terlanjur tercatat dan bagaimanapun, Spanyol tetap memiliki tempat dihati saya. Lalu, mengapa pindah ke Belanda dan tidak kembali saja ke Indonesia ? Karena proses perceraian belum sepenuhnya selesai, jadi akan lebih mudah dan ringan di ongkos jika sewaktu-waktu saya harus kembali ke spanyol. Saya tidak memiliki keluarga yang tinggal di Spanyol, hanya suami yang segera akan menjadi mantan suami :) sedangkan di Belanda saya memiliki tempat tinggal dan tidak harus menyewa. Dan tentu saja saya akan terus berupaya mewujudkan semua keinginan yang sudah tercatat, melakukan perjalanan mengunjungi negara-negara lain di Eropa serta mewujudkan semua impian lainnya setelah semua dokumen perceraian selesai.  Saya akan terus menulis dan berbagi pengalaman perjalanan saya disini. Siapa tahu, mungkin saya akan lebih produktif dari sebelumnya.


Never grip the love. Let it open, cuz if it is yours, than definitely will comeback to you. And if it is not yours, you can´t hold it, one day it will fly away


Salam, Melli













Monday, November 29, 2021

 Spain Adventure


Hi !!! Apa kabar ?? Ketemu lagi kita setelah cukup lama saya tidak memposting apapun. Selama lebih kurang 3 minggu ini, kami sedang menyiapkan mobil untuk petualangan di musim dingin.  Tadinya kami berpikir untuk tinggal dirumah selama musim dingin, tapi kemudian berubah pikiran. Masa hanya karena dinginnya cuaca kami hanya berdiam diri di rumah. Bisa-bisa malah pecah perang dunia hahaha....lalu kami memutuskan untuk memodifikasi mobil supaya siap dipakai berpetualang di musim dingin.  Untunglah semua selesai tepat waktu, satu minggu sebelum salju turun pertama kali 😃dan sekarang saya punya lebih banyak waktu untuk menyelesaikan cerita perjalanan musim panas kami. 
 

Fisterra



 
Fisterra hanya berjarak sekitar 80 km atau satu jam perjalanan dari Santiago de Compostella. Tapi sebelumnya kami mampir dulu di fervenza do Ezaro, ini adalah ujung sungai Xallas yang mengalir dari Dumbria ke Carnota menembus bebatuan sehingga membentuk sebuah air terjun yang spektakuler. Sayang keindahannya sedikit terganggu dengan pembangunan waduk dan  pembangkit listrik tenaga air.  Kita sudah bisa menyaksikan keindahan air terjun ini dari view point di puncak bukit sebelum masuk ke area parkir dibawah, kurang lebih 1 km sebelum pintu masuk air terjun.  Kebanyakan pengunjung hanya berhenti sekitar 5-10 menit saja untuk berfoto  dengan latar belakang air terjun atau pantai, lalu melanjutkan perjalanan. Ada 2 view point untuk melihat air terjun dan mengambil foto dari atas,  salah satunya membutuhkan sedikit keberanian karena kita harus memanjat dan melompat dari satu besar ke batu besar lainnya untuk mendapatkan hasil foto yang indah, karena sebenarnya ini bukan area view point yang disediakan untuk pengunjung. Tapi jika anda takut ketinggian atau membawa anak-anak sebaiknya berhenti di view point yang sesungguhnya saja, lebih aman 😊





Hari itu kami beruntung bisa langsung mendapat tempat parkir, dekat dengan jalan masuk. Di lokasi parkir terdapat area makan dan food stand, toilet umum serta kantor tourist information. Untuk menuju tempat jatuhnya air terjun ini, kita harus berjalan masuk melalui jembatan kayu sejauh lebih kurang 500 meter. Mungkin karena yang dilihat hanya sebuah air terjun dan tidak terlalu luas, wisatawan hanya berfoto dan langsung kembali ke area makan atau melanjutkan perjalanan ke tempat wisata yang lainnya. Jadi dari ujung jembatan kayu sudah terlihat rombongan wisatawan yang berjalan keluar masuk. Didepan air terjun kami masih harus antri untuk bisa berfoto tepat didepan jatuhnya air. 

Kami belum puas jika hanya mendapat foto yang biasa-biasa dan bisa dimiliki siapa saja, jadi kami kembali menjadi bajing loncat dari satu batu ke batu yang lain menuju ke tengah sungai supaya mendapat hasil foto yang "lebih menantang". Jika ingin meniru kami, jalan menuju batu ditengah sungai berada dibawah jembatan kayu. Anda harus merambat dibawah lambu sorot lalu melompat ke batu-batu besar yang berjejer ke arah tengah. Tipsnya adalah  melepas sepatu karena batunya licin dan jangan lupa membawa baju ganti, persiapan  jika anda gagal melompat dan tercebur ke sungai haha 









Setelah berfoto kami kembali ke area makan dan menyiapkan makan siang kami sendiri di bangku dan meja beton yang tersedia disana. Agak panas sih, karena tidak disediakan payung besar seperti jika kita makan dan memesan makanan dari food stand. Cukup banyak pengunjung yang piknik disana seperti kami, bawa makanan sendiri dan duduk-duduk di bangku beton atau di rumput. Tapi harga makanan di food stand juga tidak terlalu mahal, hanya saja pilihan jenis makanannya terbatas.

Karena tujuan utama kami bukan disana, setelah makan kami melanjutkan perjalanan menuju Fisterra. Pemandangan di sepanjang jalan adalah laut dan muara yang dipenuhi kapal-kapal nelayan. Tidak lama, hanya sekitar 40 menit berkendara kami sudah tiba di Fisterra. Berjarak 98 km dari Santiago de Compostella, ini adalah tujuan akhir dari banyak peziarah, atau dikenal juga sebagai 0 km of Camino de Santiago. Berada di Costa de Monte yang berbatu-batu, tempat ini juga dikenal dengan sebutan Pantai Kematian karena banyaknya bangkai kapal di sepanjang pantai. Nama Fisterra sendiri berasal dari bahasa latin Finis Terrae yang berarti akhir tanah, atau jika bisa juga diartikan sebagai semenanjung. 

Dari jauh  kita bisa melihat mercusuar yang dikenal sebagai Monte Facho, sayangnya tidak terbuka untuk umum, jadi kita hanya bisa melihat dari luar bangunan saja. Di jalan menuju mercusuar juga ada sebuah gereja paroki Santa Maria de Fisterra. Masuk lebih jauh, dibelakang bangunan mercusuar kita akan melihat tumpukan sepatu, topi, tongkat  dan berbagai benda yang dibawa peziarah sepanjang perjalanan dibuang disana sebagai pengingat. Cuaca yang sangat panas tidak menghalangi pengunjung dan peziarah untuk menikmati keindahan Fisterra. Mereka, termasuk kami, dan  terutama para peziarah, duduk-duduk ditepian semenanjung yang curam tapi menakjubkan. Tidak terlalu tahan dengan panasnya cuaca, kami menyempatkan diri berfoto dibatu tanda berakhirnya camino, lalu segera kembali ke area parkir yang jaraknya lumayan jauh dari bangunan mercusuar.









Hari itu kami juga punya janji untuk bertemu dengan salah satu teman dari Indonesia yang tinggal dekat Fisterra. Jam 1 siang kami bertemu di dekat pantai dan ngobrol-ngobrol disana. Dari mereka kami tahu tempat-tempat mana saja di Galicia yang layak untuk kami kunjungi selain Fisterra dan Fraga de Eume yang memang sudah masuk dalam bucket list kami.  Sekitar jam 5 sore kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Coruna, salah satu kota yang direkomendasikan oleh mereka. Terima kasih untuk mbak Retiani dan suami yang sudah meluangkan waktunya untuk bertemu kami di Fisterra. 

Selanjutnya, saya akan menceritakan keseruan kami nonton konser musik dan menghadiri pernikahan di Coruna. Sampai jumpa di Coruna !!





Wednesday, November 3, 2021

 Spain Adventure

Santiago de Compostella




Turun dari Combarro view point kami kembali lagi ke fountain di bawah untuk mandi, mencuci perlengkapan memasak dan mengisi persediaan air di mobil. Jika menemukan fountain atau sungai, kami selalu sempatkan mandi dan mencuci, karena  tidak tahu kapan lagi akan menemukan air berlimpah seperti saat ini. Selesai mandi  datang 3 gadis  remaja yang berhenti untuk beristirahat dan mengisi air minum disana. Kami ngobrol sebentar, mereka melakukan Camino dan sudah berjalan selama 3 hari. Memang banyak jalur menuju Santiago de Compostella, salah salah satunya yang melewati Combarro. Jarak yang terdekat untuk mendapatkan semacam sertifikat adalah 100 km seperti yang mereka lakukan, dan lebih kurang selama 5 hari berjalan. Saat musim liburan seperti sekarang ini, semakin banyak orang melakukannya, terutama remaja seperti mereka.  

Maka kami putuskan tujuan kami selanjutnya adalah Santiago de Compostella. Hanya 1 jam berkendara atau sekitar 68 km dari Combarro. Sepanjang jalan kami melihat banyak sekali rambu-rambu,  para pejalan kaki dan albergue, maklum, sudah mulai mendekati titik akhir camino. Alberque adalah asrama bagi para peziarah. Konsepnya mirip seperti hostel. Biasanya memiliki satu atau beberapa kamar dengan tempat tidur susun, toilet bersama, dapur dan area umum. Tarifnya dihitung per-orang dan berkisar antara 15-30 euro. Mendekati kota Santiago, jalanan semakin ramai dengan mobil-mobil. Yakin akan sulit mencari tempat parkir,  kami berhenti di gedung pusat kesenian, perpustakan dan stadion yang memiliki lahan parkir sangat luas agak diluar kota. Sayangnya tidak ada tempat teduh karena gedung ini tergolong masih baru dan pohon-pohon yang ditanam di lahan parkir masih kecil dan pendek.  Meskipun jauh dari pusat kota, lahan parkir disanapun ternyata penuh, dan rupanya stadion hari itu digunakan sebagai tempat vaksin covid bagi penduduk Santiago. Di gedung kesenian juga  sedang ada pertunjukan drama. Ketika tahu tujuan kami adalah ke Katedral Santiago de Compostella, seseorang yang parkir disebelah kami berkata kalau hari itu Katedral lebih ramai dari hari-hari biasanya. Wah...kalau hari biasa saja yang datang kesana bisa ratusan orang orang, bagaimana jika sedang ramai ya? 

Kami masih harus berjalan lumayan jauh, kira-kira 3 km dari Katedral kami menemukan lahan parkir yang luas dan rindang. Sebas kembali untuk mengambil dan memindahkan mobil kesini karena menurutnya kami bisa tidur disitu malam nanti. Saya memilih menunggu saja dibawah pohon. Biar deh dibilang gak setia, daripada jalan lagi ke stadion. Setelah berjalan hampir 1 jam dibawah terik matahari, duduk dibawah pohon jauh lebih menggiurkan buat saya. Ketika kembali, mobil kami parkir dibawah pohon yang agak jauh dari jalan raya, supaya nanti malam tidak terlalu bising dengan suara mobil-mobil yang lewat. Tapi perjuangan belum selesai, kami masih harus berjalan lagi ke Katredral. Memotong jalan melalui belakang halaman rumah penduduk dan  menyusuri sungai, kira-kira 30 menit kemudian barulah kami melihat menara Katedral. Baru melihat menaranya saja kami sudah girang bukan main. 

Siang itu jalanan sepi. Tidak ada mobil yang parkir ditengah kota karena sepertinya memang tidak diperbolehkan. Entah karena saat itu jam siesta atau  karena kami melewati jalan yang berbeda dari yang biasanya dilalui peziarah, kami hanya berpapasan dengan beberapa orang saja. Bersama kami  ada seorang peziarah lain yang mengendarai sepeda. Jalan yang kami lalui sangat menanjak, kami saja yang berjalan kaki saja kesulitan, apalagi dia yang menggenjot sepeda. Di atas pintu-pintu rumah terlihat lambang khas Camino menyerupai rumah kerang dan tahun pembangunannya. Dilihat dari tahun pembuatannya, rata-rata rumah disana sudah berumur ratusan tahun. Semakin mendekati katedral, jalanan semakin ramai. Disekitar kami lihat banyak cafe, restoran dan hotel yang semuanya penuh pengunjung. Lebih kurang jam 3 sore, akhirnya kami bisa melihat secara langsung penampakan katedral Santiago de Compostella yang terkenal itu. Kami masuk dari arah samping kiri katedral. Dihalaman penuh dengan peziarah, dan untuk masuk ke dalam katedral ada antrian yang cukup panjang. Padahal tidak dibatasi, tapi antriannya sampai hampir keluar halaman katedral. 




Dipintu masuk barang bawaan kami diperiksa satu persatu, dan kami dilarang melepas masker meskipun untuk berfoto. Mungkin karena bangunannya yang terlalu besar, antrian panjang para pengunjung yang kami lihat diluar tadi seperti tidak ada apa-apanya. Kami masih bisa berfoto dengan leluasa sambil mencuri-curi kesempatan berfoto tanpa masker hehehe.... Petugas penjagaan mondar-mandir dan berulang-ulang mengumumkan bahwa kami dilarang berbicara dan menyentuh tembok. Sayangnya bagian terpenting dari cerita sejarah, yaitu pilar yang berjejak telapak tangan, tidak bisa kami lihat. Mungkin karena pandemi sehingga bagian tersebut ditutup supaya pengunjung tidak menyentuhnya. Mas penjaga yang bertubuh lebih kekar dari Sebas berjaga disana. Untuk sekedar mendekatipun kami tidak diperbolehkan.










Menurut sejarah, katedral ini dibangun pada abad ke-10 dibawah pemerintahan Alfonso VI dari Kastilla yang mendapat perlindungan dari uskup Diego Palaez. Bangunannya dibuat sesuai rencana yang sama dengan gereja di Toulouse, Perancis. Sebagian besar bangunan menggunakan granit. Langit-langitnya sangat tinggi dan ornamen-ornamennya berwarna keemasan.  Saya tidak tahu apakah hanya cat berwarna emas atau memang berlapis emas. Setelah melihat-lihat bagian dalam katedral kami keluar untuk makan siang di halaman. Disana kami mendengar kalau jam 19.00 nanti akan ada misa. Sebas mengajak saya untuk mengikuti misa malam. Tumben-tumbenan nih Sebas ngajak ikut misa. Petugas penjaga dipintu keluar memberitahu kami kalau peserta misa dibatasi hanya 250 orang saja, dan jika kami ingin ikut misa sebaiknya masuk dan menunggu didalam. Wah, padahal masih 2 jam lagi, jadilah kami kembali ke pintu masuk dan mengantri. Setelah didalam kami langsung mencari tempat duduk, lebih baik duduk menunggu daripada harus keluar lagi karena tidak mendapat tempat. 

Tepat jam 19.00 dua orang petugas gereja naik ke mimbar. Mereka mengumumkan  dalam 2 bahasa, Perancis dan Belanda, bahwa bilik convension atau pengakuan dosa sudah dibuka dan mempersilahkan peserta misa yang ingin membuat pengakuan dosa. Pengakuan dosa disediakan dalam beberapa bahasa; Inggris, perancis, belanda, spanyol dan tagalog. Setelah itu seorang seorang biarawati maju ke mimbar dan menyanyikan pujian, suaranya merdu sekali.  Semenjak pindah ke Spanyol, belum pernah saya melihat hal itu, meskipun kami sudah menghadiri berkali-kali misa di berbagai gereja. Lalu uskup datang dan memimpin misa dalam bahasa Spanyol. Di tengah misa, ketika biarawati kembali menyanyikan pujian, kami dikejutkan dengan suara organ pipa yang dimainkan tepat diatas tempat duduk kami. Wah, ini juga baru pertama kalinya kami dengar. Kami kira organ pipa sudah tidak dimainkan lagi dan hanya dijadikan sebagai hiasan gereja atau katedral. Saking kagumnya, kami sampai tidak lagi serius mengikuti misa karena berkali-kali mendongakkan kepala mengagumi musik yang keluar dari pipa-pipa diatas kami. Saya dan Sebas setuju bahwa hari itu adalah misa terindah yang pernah kami ikuti. 




Misa berakhir jam 20.00 dan pintu katedral langsung ditutup ketika peserta misa terakhir keluar. Di depan pintu keluar kami melihat air mancur dan menyempatkan berfoto disana. Lalu kami berjalan ke bagian depan dari katedral yang seharusnya menjadi pintu masuk utama. Tapi semenjak pandemi ditutup total dan peziarah hanya diperbolehkan masuk melalui pintu samping. Di halaman depan kami lihat lebih banyak lagi peziarah yang berada disana untuk sekedar berfoto atau duduk-duduk dan beristirahat. Di arah kanan katedral adalah sebuah hotel bintang 5 yang pernah menjadi lokasi syuting film The Way yang juga menceritakan tentang perjalanan seseorang yang melakukan camino de santiago.





Puas berfoto kami berjalan-jalan mengelilingi kota Santiago sambil menunggu saat matahari terbenam. Disekeliling katedral ternyata masih banyak gereja-gereja kecil, monastery dan juga cafe, bar serta restoran. Pemandangan yang sangat kontras, disatu sisi adalah gereja, tempat beribadat dan disisi lainnya adalah restoran dan bar yang menjual minuman keras dan memutar musik dengan sangat keras. Di lorong-lorong juga banyak pengamen yang memainkan alat musik diantaranya gitar, biola dan bagpipe, alat musik khas scotlandia. Juga banyak kios-kios kecil beratapkan tenda yang menjual pernak-pernik khas Camino de Santiago







Setelah matahari terbenam kami kembali ke tempat parkir, menyiapkan shower tent dan merebus air untuk mandi karena udara disana sangat dingin setelah matahari terbenam meskipun sedang musim panas. Kami memasak makan malam dan tidak seperti biasanya, malam itu kami tidak langsung tidur setelah makan. Kami ngobrol dan menikmati tempat parkir yang malam itu serasa milik kami berdua saja, karena hanya kami yang parkir disitu. 

Sekitar jam 8 pagi keesokan harinya kami terbangun oleh suara rombongan anak-anak TK yang berjalan-jalan. Ketika kami keluar mobil mereka menyapa kami dan melambaikan tangan, lucu sekali. Karena udara pagi itu cukup hangat, kami mandi di sungai dekat tempat parkir lalu sarapan dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke tempat yang juga merupakan tujuan akhir dari peziarah Camino de Santiago. Fisterra ! 😍